
PBN Paribas memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto Jepang (GDP) akan melambat menjadi 0,8 persen pada 2026, turun dibanding 1,1 persen di 2025. Faktor utama adalah inflasi yang lebih tinggi dan biaya energi yang membebani aktivitas ekonomi, meskipun dukungan fiskal serta investasi di bidang kecerdasan buatan memberi bantalan tertentu.
Rantai faktor tersebut menunjukkan bagaimana kebijakan moneter berada pada jalur yang hati-hati. Pasar mencatat bahwa Jepang menghadapi tekanan pada yield tenor panjang, didorong oleh tingginya utang publik dan laju penyesuaian kebijakan yang berjalan. Sejak 2024, Bank of Japan mulai menyesuaikan tingkat kenyamanan moneter secara bertahap.
Implikasi bagi pelaku pasar adalah potensi depresiasi yen terhadap dolar jika laju pengetatan berjalan sesuai proyeksi. BNP Paribas juga memproyeksikan USD/JPY mencapai 165 pada kuartal keempat 2026, dengan proyeksi terhadap GBP/USD sebesar 1,32 pada periode yang sama.
BoJ diproyeksikan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin setiap empat hingga lima bulan, menuju tingkat terminal 2,50 persen pada 2028. Rencana ini menandai kelanjutan transisi dari kebijakan akomodatif menuju kebijakan yang lebih ketat secara bertahap.
Pengetatan bertahap ini didorong oleh kebutuhan menahan inflasi tanpa menimbulkan gejolak pada pasar keuangan. Dampaknya pada pasar obligasi adalah tekanan terhadap yield jangka panjang, meskipun upaya kebijakan tetap dijalankan secara terukur untuk menjaga kestabilan pasar.
Perbedaan siklus kebijakan antara BoJ dan bank sentral lain cenderung memperkuat tekanan pada yen, karena aliran modal ke aset berpendapatan lebih tinggi dapat bertambah seiring ekspektasi kenaikan suku bunga yang konsisten.
Proyeksi USD/JPY sebesar 165 pada Q4 2026 menunjukkan yen kemungkinan melemah terhadap dolar dalam kerangka kebijakan moneter yang berjalan. Proyeksi ini juga menggambarkan dinamika nilai tukar terhadap pasangan lain seperti GBP/USD yang diperkirakan melemah terhadap dolar.
Strategi bagi pelaku pasar melibatkan pemantauan faktor-faktor pendukung seperti laju inflasi, biaya energi, serta dampak dukungan fiskal terhadap lintasan kebijakan. Investasi di bidang AI yang menjadi motor penggerak bisa menambah daya tahan terhadap tekanan biaya, meskipun tetap memberi tekanan pada nilai tukar yen secara umum.
Secara menyeluruh, investor perlu waspada terhadap volatilitas di pasar FX dan obligasi Jepang, serta bagaimana perubahan kebijakan global bisa mengubah ekspektasi terhadap yield dan pergerakan USDJPY.