
Futures Dow Jones diperdagangkan lebih tinggi pada sesi Eropa, terpantau naik sekitar 0.30% dan mendekati level 49,950. Di saat bersamaan, indeks S&P 500 naik mendekati 7,480 dan Nasdaq 100 mendekati 29,600, didorong oleh kinerja saham teknologi besar. Pergerakan ini mencerminkan arus minat investor terhadap nadi pasar yang didorong oleh kinerja raksasa teknologi di papan atas.
Rally didorong oleh pergerakan beberapa nama besar teknologi seperti Nvidia, Apple, Alphabet, dan Micron Technology. Meski demikian, fokus investor juga tertuju pada data inflasi produsen (PPI) bulan April yang menunjukkan laju kenaikan tertinggi sejak 2022. Data tersebut menambah nuansa ke arah kekhawatiran terhadap dinamika kebijakan moneter di masa mendatang.
Data PPI yang lebih tinggi menambah tekanan pada kebijakan Bank Sentral AS, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan sikap kebijakan yang hawkish. Pasar juga menimbang peluang perubahan kebijakan sambil menunggu berita utama dari pertemuan para pemimpin AS dan China yang dapat mempengaruhi aliran modal global.
Para pelaku pasar akan memperhatikan laporan Retail Sales AS untuk April yang dijadwalkan rilis nanti hari ini, karena angka tersebut bisa mengubah asumsi mengenai momentum konsumsi. Hasilnya dapat memberi petunjuk tambahan tentang seberapa kuat perekonomian AS saat ini dan bagaimana Fed bisa meresponsnya di pertemuan berikutnya.
Pelaku pasar meresap data PPI YoY sebesar 6.0% untuk April, lebih tinggi dari 4.3% bulan sebelumnya dan melampaui perkiraan 4.9%. Namun, PPI bulanan naik 1.4%, lebih tinggi dari ekspektasi sekitar 0.5%. Data ini menambah tekanan pada Federal Reserve untuk mempertahankan sikap hawkish dalam upaya menekan tekanan inflasi jangka menengah.
Selain itu, dinamika global seperti pembicaraan antara pemimpin AS dan China turut memberi warna pada volatilitas pasar. Meski sentimen teknikal pada beberapa indeks mengalami dorongan, pasar tetap berhati-hati karena risiko eksternal yang dapat memicu reaksi pasar lebih lanjut. Investor disarankan menilai bagaimana data data ritel dan inflasi mempengaruhi ekspektasi kebijakan di tengah ketidakpastian geopolitik.