
Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah menambah kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga yang lebih tinggi. Penutupan sementara Selat Hormuz berpotensi menaikkan harga energi dan inflasi, sehingga pasar mengantisipasi The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk periode yang lebih panjang. Kondisi ini menekan daya tarik logam non-yielding seperti perak.
Data ekonomi terbaru mendukung skenario hawkish tersebut. Indeks ISM Manufacturing PMI mencapai 54 pada Mei 2026, naik dari 52,7 sebelumnya, dan menjadi ekspansi pabrik tertinggi sejak Mei 2022. Angka ini menambah tekanan pada inflasi dan memperkuat asumsi bahwa kebijakan moneter akan tetap agresif untuk periode yang cukup panjang.
Selain itu, dinamika pasar tenaga kerja juga menunjukkan kekuatan ekonomi. Data JOLTS April menunjukkan lonjakan lowongan kerja menjadi 7,6118 juta dengan penurunan PHK yang cukup signifikan. Kombinasi data manufaktur dan tenaga kerja yang kuat memperumit prospek inflasi, sehingga pelaku pasar menantikan rilis Nonfarm Payrolls pada Jumat untuk petunjuk definitif mengenai arah kebijakan moneter.
Harga perak (XAGUSD) melemah setelah kenaikan tipis sebelumnya, diperdagangkan sekitar 74,70 dolar AS per troy ounce pada sesi Asia. Pergerakan ini mencerminkan reaksi pasar terhadap ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi atas kebijakan moneter yang lebih ketat. Tekanan teknikal dan dinamika likuiditas juga turut membentuk arah pergerakan logam putih tersebut.
Ketegangan pasokan energi akibat risiko geopolitik menambah tekanan pada inflasi global, yang pada akhirnya menjaga the Fed tetap hawkish. Pasar menilai risiko biaya energi bisa memperpanjang fase pengetatan kebijakan, sehingga XAGUSD berisiko mengalami pelemahan lebih lanjut jika ekspektasi suku bunga tetap tinggi bertahan lama.
Dengan adanya data manufaktur dan tenaga kerja yang kuat, para investor menantikan laporan Nonfarm Payrolls yang akan dirilis pada hari Jumat sebagai petunjuk jelas bagi arah kebijakan The Fed. Sinyal ini berpotensi meningkatkan volatilitas pada XAGUSD, meskipun fondasi ekonomi AS tetap kuat dan fokus inflasi tetap menjadi pusat perhatian.
Kejutan militer Iran dengan peluncuran rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain menambah risiko bagi pasar keuangan. Amerika Serikat menanggapi dengan serangan balasan terhadap Qeshm Island, memperketat suasana keamanan regional. Ketidakpastian geopolitik ini mendorong pelaku pasar untuk menahan pembelian aset berisiko dan meningkatkan perhatian pada pergerakan harga logam mulia.
Negosiasi damai antara AS dan Iran juga tersendat, meskipun ada laporan bahwa pembicaraan masih berlangsung. Laporan dari media negara Iran menambah keraguan mengenai kemajuan negosiasi, sehingga pasar menilai risiko geopolitik bisa tetap tinggi. Kondisi ini memperkuat volatilitas pada perak dan terkait pasar energi secara umum.
Secara keseluruhan, sentimen pasar menunjukkan kehati-hatian meski beberapa data AS menunjukkan kekuatan ekonomi. Perak bisa terus berada dalam tekanan jangka pendek karena faktor geopolitik dan kebijakan moneter, tetapi arah jangka menengah sangat bergantung pada perkembangan kebijakan suku bunga serta dinamika negosiasi regional.