
Poundsterling Inggris mengalami tekanan jual yang cukup signifikan terhadap Dolar AS pada perdagangan akhir pekan. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan tegas dari pejabat Federal Reserve, Kevin Warsh, yang menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk memprioritaskan stabilitas harga. Pasar merespons pernyataan tersebut dengan menaikkan probabilitas pengetatan moneter lebih lanjut pada pertemuan mendatang.
Analisis dari Cetro Trading Insight menunjukkan bahwa data inflasi inti yang masih membandel menjadi alasan utama mengapa kebijakan restriktif berpotensi dipertahankan lebih lama. Meskipun data konsumsi masyarakat masih menunjukkan ketahanan, risiko inflasi tetap menjadi fokus utama regulator keuangan di Amerika Serikat. Hal ini memberikan dorongan tambahan bagi penguatan Greenback secara global.
Di sisi lain, indeks Dolar AS (DXY) merangkak naik seiring dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury). Pergeseran sentimen ini menekan GBP/USD turun ke kisaran 1.3538, mencerminkan depresiasi harian sebesar 0.40%. Para pelaku pasar kini mengalihkan fokus mereka pada rilis data ekonomi penting di pekan depan untuk petunjuk arah selanjutnya.
Pernyataan Kevin Warsh memperjelas bahwa target inflasi PCE 2% yang ditetapkan oleh Federal Reserve bersifat mutlak dan tidak dapat ditawar. Meskipun beberapa indikator ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan moderat, inflasi inti yang stabil memaksa bank sentral untuk tetap waspada. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa kebijakan kenaikan suku bunga pada pertemuan September kembali masuk dalam kalkulasi pasar.
Berdasarkan alat pemantau probabilitas suku bunga, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin melonjak dari sebelumnya hanya 34% menjadi sekitar 43%, bahkan sempat menyentuh angka 50% pasca pidato tersebut. Perubahan ekspektasi ini langsung tercermin pada pasar obligasi, di mana imbal hasil US Treasury 10-tahun mengalami kenaikan ke level 4.686%. Kenaikan yield ini memberikan sokongan kuat bagi Dolar AS untuk terus menekan mata uang utama lainnya.
Dari sisi data ekonomi AS lainnya, revisi data Nonfarm Payrolls tahunan dirilis lebih rendah dari perkiraan awal, namun diimbangi oleh data Sentimen Konsumen Michigan yang melampaui estimasi pasar. Ekspektasi inflasi jangka pendek mengalami sedikit penurunan, sementara prospek jangka panjang tetap stabil. Kombinasi data ini memberikan gambaran ekonomi AS yang cukup tangguh untuk menopang kebijakan moneter yang ketat.
Secara teknikal, pergerakan pasangan mata uang GBP/USD saat ini berada dalam fase koreksi setelah sempat tertahan di area support penting. Meskipun terdapat bias bullish jangka menengah karena harga masih bertahan di atas rata-rata pergerakan (Simple Moving Average), tekanan jual jangka pendek mulai mendominasi pasar. Keberhasilan menembus ke bawah level support terdekat akan membuka peluang penurunan lebih lanjut.
Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari saat ini berada di sekitar area 57, mengindikasikan bahwa momentum pembelian mulai melemah meskipun belum memasuki wilayah jenuh jual. Jika tekanan bearish berlanjut, level support psikologis di kisaran 1.3487 akan diuji terlebih dahulu sebelum menuju area support dinamis di sekitar 1.3424. Kegagalan mempertahankan area ini dapat memicu aksi jual yang lebih dalam menuju level 1.3390.
Untuk skenario pemulihan, GBP/USD memerlukan penutupan harian di atas area resistansi 1.3634 guna memulihkan momentum kenaikan. Jika area resistansi tersebut berhasil ditembus secara konsisten, maka pasangan mata uang ini berpotensi melanjutkan tren naiknya menuju target jangka panjang berikutnya. Investor disarankan untuk memantau rilis data ekonomi pekan depan melalui aplikasi yang ditayangkan di web Cetro untuk mengantisipasi volatilitas pasar.