
Nilai tukar USD/JPY kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan hari Jumat dengan mencatatkan kenaikan sebesar 0,14% dan bergerak mendekati level psikologis penting di 160.00. Penguatan ini memperpanjang tren kenaikan pasangan mata uang tersebut selama lima hari berturut-turut. Para pelaku pasar tampak mengabaikan rilis data ekonomi Jepang yang sebenarnya cukup positif dan lebih memilih untuk mengoleksi Dolar AS.
Berdasarkan data terbaru dari Biro Statistik Jepang, Indeks Harga Konsumen (IHK) inti Tokyo menunjukkan akselerasi ke angka 1,8% secara tahunan (YoY) dari sebelumnya 1,7% pada bulan Juli. Hasil ini melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan inflasi akan tetap stagnan di level 1,7%. Selain itu, tingkat pengangguran di Jepang juga dilaporkan menyusut menjadi 2,4%, yang merupakan level terendah dalam 12 bulan terakhir.
Meskipun data ketenagakerjaan dan inflasi domestik mendukung langkah pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh Bank of Japan (BoJ), Yen tetap berada di bawah tekanan. Fokus pasar saat ini terpecah oleh antisipasi pidato penting dari pejabat Federal Reserve di simposium Jackson Hole. Dinamika ini memberikan dorongan tambahan bagi Dolar AS untuk terus menekan Yen Jepang dalam jangka pendek.
Para ekonom dari Societe Generale menyoroti bahwa pemberlakuan kembali subsidi listrik dan gas oleh pemerintah Jepang telah menahan laju inflasi utama. Tekanan ini diperkirakan masih akan membayangi rilis data IHK hingga bulan Oktober mendatang. Kendati demikian, tekanan harga di tingkat dasar dinilai masih tetap kuat dan berpotensi meningkat kembali dalam beberapa bulan ke depan.
Deputi Gubernur BoJ, Ryozo Himino, sebelumnya telah memperingatkan mengenai risiko tekanan inflasi yang persisten dan menyuarakan dukungannya terhadap kenaikan suku bunga yang tepat waktu. Langkah antisipatif ini dinilai penting guna menghindari perlunya pengetatan kebijakan yang jauh lebih agresif di masa depan. Survei dari Teikoku Databank juga mengindikasikan adanya gelombang revisi kenaikan harga dari korporasi menjelang akhir tahun.
Kombinasi dari pengetatan pasar tenaga kerja dan inflasi inti yang mendekati target 2% BoJ terus memperkuat bias hawkish dari bank sentral Jepang. Namun, sentimen domestik yang positif ini belum mampu membendung dominasi Greenback. Pasar global saat ini lebih sensitif terhadap perbedaan arah kebijakan suku bunga antara Tokyo dan Washington yang masih cukup lebar.
Kekuatan Dolar AS menjelang akhir pekan ini didorong oleh sikap hati-hati para investor yang menantikan pidato Kevin Warsh di simposium tahunan Jackson Hole. Pelaku pasar mencari petunjuk baru mengenai bagaimana bank sentral AS akan merespons tekanan inflasi yang masih membandel di negara tersebut. Ketidakpastian arah kebijakan ini memicu arus masuk modal ke aset-aset berdenominasi Dolar.
Sejumlah pejabat Federal Reserve dalam beberapa waktu terakhir juga terus menyuarakan nada yang cenderung ketat (hawkish). Presiden Fed Kansas City, Jeffrey Schmid, menyatakan bahwa inflasi masih cukup lengket dan membutuhkan perhatian serius dari para pembuat kebijakan. Senada dengan itu, Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack, mengisyaratkan bahwa sudah tiba saatnya untuk mengambil tindakan tegas terkait tingkat suku bunga acuan.
Perbedaan sentimen ini membuat Dolar AS tetap unggul atas Yen Jepang meskipun data domestik Jepang tergolong solid. Melalui aplikasi analisis Cetro Trading Insight, terlihat bahwa minat beli terhadap USD/JPY masih mendominasi pergerakan harga harian. Para trader kini bersiap mengantisipasi volatilitas tinggi saat pidato Jackson Hole berlangsung malam nanti.
Pada grafik satu jam (H1), USD/JPY terpantau bergerak di kisaran 159.59 dan mempertahankan bias bullish yang konstruktif. Pergerakan harga saat ini bertahan dengan nyaman di atas Simple Moving Average (SMA) 100-periode dan 200-periode yang masing-masing berada di level 159.29 dan 159.13. Hal ini mengonfirmasi bahwa tren naik jangka pendek masih sangat solid.
Selain didukung oleh indikator rata-rata bergerak, pasangan mata uang ini juga ditopang oleh garis tren naik (upward-sloping trend line). Indikator Relative Strength Index (RSI) saat ini berada di sekitar area 59, yang menunjukkan momentum bullish moderat tanpa adanya tekanan jenuh beli (overbought) yang ekstrem. Kondisi ini memberikan ruang bagi harga untuk kembali menguji level yang lebih tinggi.
Untuk skenario pergerakan harga, area support terdekat berada di level horizontal 159.50, diikuti oleh area garis tren di 159.34, serta klaster SMA di 159.29 dan 159.13. Di sisi atas, hambatan resistansi horizontal pertama berada di kisaran 159.78. Penembusan yang konsisten di atas batas resistansi tersebut diperkirakan akan membuka jalan bagi kelanjutan reli menuju level psikologis 160.00 dan seterusnya.