AS Tumbuh Lambat di Luar Aktivitas AI, Inflasi PCE Meningkat, Fed Diperkirakan Menahan Suku Bunga Hingga 2026

trading sekarang

Menurut penilaian Rogier Quaedvlieg, pertumbuhan ekonomi AS melambat secara tajam ketika aktivitas yang didorong AI tidak ikut berkembang. Sektor terkait teknologi tetap menunjukkan dinamika yang lemah, sementara penciptaan pekerjaan mendekati nol menambah ketidakpastian terhadap prospek output. Kondisi ini mendorong revisi pada estimasi GDP dan memperlihatkan kapabilitas ekonomi mengalami ketergantungan pada faktor-faktor jangka pendek.

Tarif perdagangan dan tekanan harga minyak menjadi pendorong utama lonjakan proyeksi inflasi konsumsi pribadi inti. Proyeksi PCE inflasi diperkirakan lebih tinggi, memicu spekulasi mengenai arah kebijakan moneter yang lebih ketat. Bank sentral AS diperkirakan menahan suku bunga hingga Desember 2026 sebelum memulai pelonggaran secara bertahap pada 2027.

Para analis menilai ada risiko efek lanjutan yang sulit diamati akibat kejutan energi, meski ekonomi menunjukkan pola K-shaped. Meskipun letupan inflasi kembali menjadi topik, dampaknya terhadap belanja dan investasi terkait AI cukup beragam. Narasi kebijakan cenderung pasif, dengan Ketua Powell berpotensi menjaga arah saat ini dan penggantinya lebih cenderung menahan diri terhadap perubahan besar.

Proyeksi inflasi PCE diperkirakan naik menjadi sekitar 3.6 persen pada puncak kuartal kedua tahun ini akibat lonjakan biaya energi dan tarif. Laju ini menambah kekhawatiran bahwa tekanan inflasi inti tetap bertahan di atas target. Kondisi ini mendorong asumsi bahwa kebijakan moneter akan bersifat lebih hati-hati.

Beberapa dampak energi menambah kompleksitas kebijakan meski tekanan tenaga kerja tidak langsung meningkatkan permintaan secara signifikan. Aliran biaya produksi yang lebih tinggi memberi kontribusi pada naiknya harga barang dan jasa yang berdampak pada inflasi inti. Oleh karena itu pasar menilai manfaat dari jeda kebijakan dan potensi penyesuaian bertahap di masa depan.

Kebijakan moneter diperkirakan tetap pada jalur hold hingga akhir 2026 dan baru melihat langkah normalisasi pada 2027 melalui dua pemotongan 25 basis poin. Penggantinya di kursi hawkish menjadi lebih cenderung menjaga konsensus untuk tidak menaikkan suku bunga dalam jangka pendek. Secara garis besar, risiko utama terkait harga minyak dan dinamika investasi AI menjadi faktor penentu jalur kebijakan ke depan.

Radar Risiko dan Jalur Kebijakan ke Depan

Analisa menyimpulkan bahwa efek second order sulit diidentifikasi meskipun inflasi terlihat mulai meningkat lagi. Faktor-faktor seperti tarif dan kekurangan tenaga kerja di sektor tertentu memperkaya sumber tekanan pada harga. Ketidakpastian ini membuat jalur kebijakan lebih kompleks untuk dinilai investor.

Volatilitas pasar bisa meningkat karena kombinasi antara harga energi, perubahan kebijakan, dan perkembangan investasi AI. Sentimen risiko global akan terus dipengaruhi oleh dinamika permintaan domestik dan ekspor impor negara utama. Investor disarankan memantau indikator inflasi inti dan pergerakan energi sebagai sinyal utama.

Secara keseluruhan, proyeksi menunjukkan bahwa jalur kebijakan akan terbatas hingga 2027 dengan perhatian pada inflasi inti serta tekanan energi. Kami di Cetro Trading Insight akan terus memantau deviasi antara proyeksi inflasi dan realitas pasar serta implikasinya bagi strategi investor. Langkah-langkah fiskal juga akan mempengaruhi volatilitas pasar, terutama di sektor AI dan energi.

broker terbaik indonesia