Pasar modal Indonesia menghadapi sebuah sorotan baru ketika Bekti Sutikna, trader yang dikenal luas lewat gaya scalping agresif, tercatat sebagai pemegang saham TECH di atas 1 persen. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI menunjukkan Bekti memiliki 13.632.700 saham TECH, setara dengan 1,09 persen dari total saham beredar. Angka keterbukaan ini menjadi sorotan karena jarang terjadi untuk kepemilikan di bawah 5 persen yang dipublikasikan secara luas.
Saham TECH saat ini diperdagangkan di level Rp50 per lembar dan tidak berubah sejak pertengahan 2023. Berdasarkan data terbaru, saham tersebut masuk papan pemantauan khusus sejak 21 Juni 2024 dan hingga saat ini masih disuspensi oleh BEI karena perseroan belum menyampaikan laporan keuangan. Kondisi ini menambah ketidakpastian bagi investor yang mempertimbangkan investasi jangka pendek maupun jangka menengah.
Untuk investor ritel, pengungkapan kepemilikan oleh tokoh pasar seperti Bekti menambah dinamika di harga dan likuiditas TECH. Meskipun demikian, klausa suspensi dan laporan keuangan yang tertunda menuntut kehati-hatian. Cetro Trading Insight mencatat bahwa pergerakan harga akan sangat sensitif terhadap konteks fundamental perusahaan dan hasil keuangan yang akan datang, bukan semata perhatian publik terhadap pemegang saham baru.
Bekti Sutikna menempuh perjalanan panjang di pasar saham. Ia mengawali minatnya sejak di bangku kuliah Ekonomi Akuntansi pada Universitas Islam Indonesia pada 2008, saat seminar saham membakar semangatnya. Ia belajar secara otodidak, melewati liku-liku pasar hingga membentuk gaya trading scalper agresif dengan frekuensi transaksi tinggi yang menjadi ciri khasnya. Karya dan pengalaman ini kemudian membawanya ke panggung publik melalui publikasi dan cerita perjalanan di berbagai media.
Prestasi Bekti melejit saat mengikuti HOTS Championship Season 3 pada 2021. Ia menjuarai kategori Transaction Value dengan total nilai transaksi mencapai Rp2,42 triliun dan imbal hasil sekitar Rp4,6 miliar, setara 217,6 persen. Video berjudul Hidden Masters, Transaksi Rp 2,4 T dalam Sebulan yang dirilis Mei 2021 ikut melambungkan namanya di kalangan pengamat pasar.
Gaya trading Bekti yang lebih selektif namun berukuran besar terlihat berlanjut pada HOTS Championship Season 4, yang ia menangkan lagi dengan nilai transaksi Rp2,552 triliun. Ia membuktikan bahwa pasar yang relatif sideways pun dapat dimanfaatkan melalui strategi eksekusi yang tepat. Sebelumnya, ia juga meraih Juara 2 pada HOTS Season 2 dengan imbal hasil 107 persen, menandai konsistensi performa di berbagai iklim pasar.
Kepemilikan publik sebesar 1,09 persen pada TECH memberi sinyal bahwa investor institusional maupun trader sukses bisa menilai peluang perusahaan teknologi Indonesia. Namun, data tersebut muncul di saat perseroan disuspend karena belum mengumumkan laporan keuangan, sehingga investor perlu menilai dari konteks fundamental dan kualitas laporan yang akan datang. Pengungkapan publik di Bursa Efek Indonesia menambah transparansi, namun tidak menggantikan kebutuhan atas data keuangan yang akurat.
Likuiditas saham TECH bisa terpengaruh oleh status suspend, serta volatilitas harga dapat meningkat menjelang rilis laporan keuangan. Investor disarankan melakukan evaluasi menyeluruh atas prospek bisnis dan risiko yang dihadapi perusahaan sebelum mengambil posisi. Informasi dari KSEI menjadi instrumen penting untuk memahami status kepemilikan publik dan potensi sinyal pasar di masa depan.
Disclaimer: Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya berada di tangan investor. Tim redaksi Cetro Trading Insight mengingatkan bahwa risiko investasi selalu ada, dan tidak ada jaminan atas hasil yang sama di masa mendatang. Pembaca dianjurkan untuk melakukan riset lanjutan dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil langkah investasi.