BIKE 2025 menandai momen kritikal bagi industri sepeda dan mobility di Indonesia. Dalam laporan terbaru, PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk mencatat rugi bersih Rp24,45 miliar di 2025, berbalik dari laba Rp12,62 miliar setahun sebelumnya. Meskipun volume penjualan melonjak menjadi 358.915 unit, bertambah 37,67 persen dibanding 2024, pendapatan perseroan turun menjadi Rp347,98 miliar atau sekitar 10 persen lebih rendah.
Harga jual rata-rata dan margin kerap menjadi faktor pendorong utama pergerakan laba. Realisasi pendapatan sekitar 58 persen dari target awal 2025 sebesar Rp600 miliar menyebabkan laba bersih berakhir di zona negatif. Meski ada peningkatan volume, kinerja keuangan menegaskan perlunya pembenahan struktur biaya dan strategi harga.
Menurut laporan tahunan 2025, tantangan utama berasal dari berakhirnya program subsidi kendaraan listrik sejak Desember 2024 yang mengurangi insentif pembelian. Kendala logistik, terutama di luar Pulau Jawa, turut menekan kinerja karena biaya distribusi lebih tinggi akibat infrastruktur yang belum merata, tarif transportasi yang berfluktuasi, serta keterbatasan fasilitas pergudangan. Beban keuangan meningkat seiring upaya penguatan kapasitas operasional melalui penambahan karyawan.
Permintaan segmen kendaraan listrik tetap menjadi fokus perhatian karena berakhirnya subsidi pemerintah. Meski BIKE melakukan promosi untuk menjaga minat beli, efek jangka pendek terhadap volume penjualan belum sepenuhnya menutupi tekanan margin. Kondisi pasar yang masih menantang menandakan bahwa langkah konsolidasi diperlukan untuk menjaga kesehatan biaya.
Di sisi distribusi, beban logistik menjadi komponen biaya signifikan. Biaya distribusi di luar Jawa relatif lebih tinggi akibat infrastruktur yang tidak merata, fluktuasi tarif transportasi, serta keterbatasan fasilitas pergudangan di beberapa daerah. Kondisi ini berdampak pada margin operasional dan memperlambat perputaran persediaan perseroan.
Nilai ekuitas BIKE tercatat sebesar Rp84,70 miliar, turun 34,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ekuitas mencerminkan dampak strategi konsolidasi dan kondisi pasar yang masih menantang, meski manajemen menekankan bahwa langkah perbaikan sedang berlangsung.
Direksi BIKE menegaskan fokus pada konsolidasi operasional dan penguatan struktur usaha untuk meneruskan pemulihan bertahap. Menurut Cetro Trading Insight, langkah-langkah ini menjadi pondasi bagi upaya memperbaiki arus kas, efisiensi biaya, dan peningkatan leverage operasional di masa mendatang.
BIKE juga menegaskan strategi promosi dan penyesuaian harga untuk mempercepat perputaran persediaan produk eksisting. Rencana ini diharapkan dapat memperbaiki margin dalam jangka menengah sambil menjaga pangsa pasar dan kepercayaan investor terhadap rencana restrukturisasi.
Meski belum kembali ke tingkat pertumbuhan sebelumnya, direksi meyakini bahwa kombinasi konsolidasi, peningkatan kapasitas operasional, dan fokus pada efisiensi biaya akan mendorong kinerja yang lebih sehat di tahun-tahun mendatang. Investor disarankan memantau implementasi rencana tersebut serta bagaimana dinamika harga bahan baku dan permintaan pasar EV akan mempengaruhi BIKE ke depan.