Data DBS Group Research memperkirakan inflasi Indonesia untuk Maret 2024 berada di level 4% year-on-year, sedikit lebih rendah dibandingkan 4,8% pada bulan sebelumnya. Tekanan harga yang lebih tinggi pada energi dan permintaan jelang libur nasional diperkirakan menjadi pendorong utama bulan ini. Laju inflasi bulanan diproyeksikan lebih cepat dibanding rata-rata historis, menandakan dampak awal dari perubahan harga energi terhadap konsumsi rumah tangga.
Analisis juga menyoroti efek basis perbandingan yang tetap menjaga tren inflasi terlihat kuat. Meskipun angka tahunan turun, faktor musiman seperti libur nasional dapat memperpanjang tekanan pada barang sehari-hari. Para analis menekankan bahwa volatilitas energi berpotensi mempertahankan dinamika harga hingga beberapa minggu mendatang.
Langkah defensif utama yang mungkin ditempuh ialah menjaga harga BBM ritel tetap pada level saat ini sambil memanfaatkan penghematan anggaran untuk menanggung biaya tambahan. Kebijakan ini bertujuan menjaga daya beli tanpa membebani fiskal secara signifikan. Namun, jika konflik berlanjut dan harga energi tetap tinggi hingga kuartal kedua, peluang kenaikan harga atau pengurangan subsidi akan meningkat, menurut analisis Cetro Trading Insight.
Para pembuat kebijakan diperkirakan memilih jalur menjaga harga BBM ritel agar tidak membebani konsumen selama periode liburan. Langkah ini diharapkan menahan tekanan inflasi tanpa memperbesar defisit fiskal. Meskipun begitu, dampaknya terhadap anggaran tetap bergantung pada dinamika biaya energi yang sedang meningkat.
Analisis juga menyoroti ketidakpastian geopolitik yang bisa mengubah prospek harga energi dan dukungan subsidi pemerintah. Jika konflik berlanjut dan harga energi tetap tinggi ke kuartal kedua, ruang bagi penyesuaian subsidi menjadi lebih mungkin. Biaya energi yang tinggi akan menjaga argumen untuk reformulasi bantuan fiskal dan mekanisme pembiayaan.
Untuk investor dan pelaku pasar, tekanan kebijakan fiskal ini dapat meningkatkan volatilitas di pasar domestik. Secara teknis, pergerakan harga minyak dan energi cenderung mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap mata uang utama. Asumsi bahwa kebijakan diarahkan pada stabilitas harga membuat risiko tetap pada seberapa cepat biaya energi terealisasi dalam anggaran negara.