Menurut analisis MUFG, Derek Halpenny, respons awal dolar AS terhadap langkah Presiden Trump yang memperpanjang jeda serangan terhadap aset energi Iran telah menunjukkan dinamika yang bergejolak. DXY sempat melemah, tetapi respons itu tidak bertahan lama dan pergerakannya relatif kecil pasca pengumuman. Dalam ulasan ini, Cetro Trading Insight menilai bahwa arah dolar sangat dipengaruhi oleh sentimen risiko global yang sedang berubah-ubah.
Seiring evaluasi risiko meningkat, skenario risk-off bisa mendorong dolar menguat kembali, terutama jika Brent berada pada kisaran lebih tinggi dan saham mengalami koreksi. Pelaku pasar perlu memantau volatilitas, karena aliran dolar sebagai safe-haven bisa meningkat pada momen ketidakpastian, meskipun pandangan jangka panjang terhadap fondamen dolar tetap tidak sepenuhnya optimis.
Secara makro, basis fundamental bagi dolar terlihat rapuh dan potensi depresiasi bisa berlanjut setelah periode konflik. Namun banyak analis menekankan bahwa dampak jangka pendek bisa mengangkat dolar ketika pasar saham terguncang lebih dalam, sehingga tekanan turun di beberapa komoditas bisa terbatas.
Pergeseran ke risiko-off cenderung menarik aliran modal ke dolar sebagai aset lindung nilai. Kondisi ini bisa membuat DXY menguat meski konteks fundamental dolar secara struktural masih lemah. Pergerakan ini juga dipengaruhi dinamika likuiditas dan respons kebijakan, sehingga volatilitas dolar bisa meningkat pada momen ketidakpastian pasar.
Para analis mengingatkan bahwa pada awal tahun dolar sempat diperdebatkan sebagai safe-haven, dengan kekhawatiran depresiasi dan lonjakan logam mulia. Meskipun pandangan jangka panjang tetap bearish bagi dolar, respons pasar jangka pendek sangat bergantung pada arah risiko serta data ekonomi yang berkembang dalam waktu dekat.
Dalam skenario yang lebih ekstrem, jika Brent berkisar antara 120-160 dolar per barel dan ekuitas turun tajam, DXY bisa melonjak menuju sekitar 105, sekitar kenaikan 7-8% dari level pra-konflik. Hal ini mencerminkan perubahan permintaan likuiditas serta aliran modal ke dolar di tengah gejolak.
Bagi pelaku pasar, penguatan dolar dalam skenario risiko-off akan menekan harga komoditas berbasis dolar, termasuk Brent. Trader perlu memperhatikan hubungan antara dolar, minyak, dan pasar saham untuk menilai peluang hedging yang tepat serta potensi pelemahan harga komoditas jangka pendek.
Jika peluang trading mengindikasikan saham melemah dan DXY menguat, posisi long dolar bisa relevan dengan target menuju 105, namun penting untuk menjaga rasio risiko terhadap imbalan minimum 1:1.5 dan menggunakan stop loss yang proporsional terhadap ukuran posisi.
Selain itu, dinamika dolar yang kuat juga bisa memberi tekanan pada Brent oil dalam jangka pendek, meski tanda-tanda pembalikan harga bisa muncul jika ketegangan mereda. Investor disarankan memantau sentimen risiko, likuiditas pasar, dan kebijakan geopolitik untuk memahami jalur pergerakan jangka panjang serta perubahan korelasi antara dolar, minyak, dan saham.