
Harga emas (XAU/USD) terus menunjukkan performa impresif dengan mencatatkan penguatan selama empat hari beruntun hingga mencapai level tertinggi sejak pertengahan Juni. Kenaikan ini didorong oleh merosotnya yield obligasi Amerika Serikat serta melemahnya nilai tukar Dolar AS. Para pelaku pasar merespons positif potensi penurunan ketegangan geopolitik dan perlambatan data ketenagakerjaan AS yang baru dirilis.
Harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz menjadi katalis utama meredanya kekhawatiran inflasi global. Berita ini langsung menekan harga minyak mentah ke level terendah dalam tiga minggu terakhir, yang pada gilirannya mengurangi tekanan inflasi. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve yang agresif mulai menyusut secara signifikan.
Cetro Trading Insight memantau bahwa para investor kini cenderung bersikap hati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan non-pertanian (Nonfarm Payrolls/NFP) pada hari Jumat. Data ADP yang mengecewakan sebelumnya menunjukkan bahwa sektor swasta hanya menambah 40 ribu pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini membuat peluang kenaikan suku bunga Fed pada bulan September turun menjadi 55% saja, memberikan angin segar bagi pergerakan aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Meskipun data ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan, beberapa pejabat penting Federal Reserve tetap memperingatkan bahwa ancaman inflasi masih belum sepenuhnya mereda. Gubernur Fed Lisa Cook menyatakan kesiapannya untuk kembali menaikkan suku bunga jika proses disinflasi terhenti di tengah jalan. Hal senada juga diungkapkan oleh Presiden Fed San Francisco, Mary Daly, yang menegaskan perlunya lebih banyak data sebelum mengambil keputusan kebijakan pada pertemuan bulan September mendatang.
Di sisi lain, risiko geopolitik tidak sepenuhnya hilang dari radar pasar keuangan global. Laporan mengenai serangan rudal oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap tanker minyak di Laut Merah tetap menjaga premi risiko geopolitik tetap aktif. Ketegangan yang masih membara di kawasan Timur Tengah ini bertindak sebagai jaring pengaman yang membatasi penurunan harga komoditas energi dan mendukung daya tarik safe haven emas.
Analisis dari tim Cetro menunjukkan bahwa pergerakan volatilitas pasar akan sangat bergantung pada rilis data klaim pengangguran mingguan AS serta pidato dari para anggota komite kebijakan moneter (FOMC). Bagi para pengguna aplikasi Cetro, rilis data ini menjadi momentum penting untuk mencari peluang transaksi jangka pendek. Perubahan sentimen yang cepat menuntut manajemen risiko yang ketat dalam menghadapi fluktuasi harga.
Secara teknikal, pergerakan emas di atas Simple Moving Average (SMA) 50-hari memberikan sinyal pembalikan arah yang kuat bagi para pembeli. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) yang berada di area positif serta Relative Strength Index (RSI) di level 61,28 mengonfirmasi adanya momentum bullish yang sedang berkembang. Namun, konfirmasi penembusan di atas level retracement Fibonacci 23.6% sangat diperlukan untuk membuka ruang kenaikan lebih lanjut.
Jika momentum kenaikan ini mampu dipertahankan, target resistansi berikutnya berada di level psikologis $4.500 yang juga bertepatan dengan garis SMA 200-hari. Penembusan yang konsisten di atas area konfluensi tersebut akan membuka jalan menuju target jangka menengah di sekitar area Fibonacci selanjutnya. Para pelaku pasar disarankan untuk memperhatikan batas-batas penting ini sebelum menempatkan posisi beli baru.
Sebaliknya, jika harga mengalami koreksi, area SMA 50-hari di kisaran $4.157 akan berfungsi sebagai level dukungan terdekat yang krusial. Penurunan yang lebih dalam di bawah level tersebut berpotensi membawa harga menguji lantai struktur jangka panjang di sekitar area terendah siklus Fibonacci dekat $3.939. Selalu pantau pergerakan harga secara real-time melalui platform analisis yang tersedia di web resmi Cetro.