Data pasar kerja Inggris menunjukkan kelemahan yang berlanjut meski beberapa angka sempat membaik pada periode tertentu. Tingkat pengangguran bertahan di level tinggi pasca pandemi, sekitar 5,1% menurut konsensus pasar dan proyeksi BoE. Kondisi ini memperkuat keraguan terhadap stabilitas tenaga kerja dalam beberapa kuartal terakhir.
Jumlah pekerjaan yang terdaftar turun 43 ribu pada Desember, sehingga total kehilangan pekerjaan sepanjang 2025 mencapai sekitar 184 ribu. Laju penurunan pekerjaan ini merupakan yang tercepat sejak 2021, menandakan perlambatan dalam dinamika pasar tenaga kerja. Tekanan pada upah tetap menjadi faktor kunci yang diwaspadai pelaku pasar.
Tekanan upah yang melambat memberi ruang bagi BoE untuk mempertimbangkan pemotongan suku bunga lebih lanjut di akhir tahun. Pertumbuhan gaji reguler sektor swasta turun menjadi 3,6% yoy, melampaui sedikit rekomendasi tetapi masih di bawah level Oktober. Hal ini sejalan dengan proyeksi BoE untuk kuartal IV sekitar 3,5%, memperkuat narasi pemangkasan kebijakan di masa mendatang.
Analisis menunjukkan perlambatan berkelanjutan dalam pertumbuhan upah, terutama di sektor swasta terkait kebijakan. Data terbaru menunjukkan laju gaji reguler turun ke level yang lebih lemah dibanding beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memberi BoE ruang untuk mempertimbangkan pemotongan suku bunga tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang berarti.
Kurva swap mematok peluang pemotongan total 50 basis poin menjadi 3,25% dalam 12 bulan ke depan, dengan probabilitas sekitar 80%. Pasar jelas menimbang risiko kebijakan moneter di masa depan dan mencoba mengkalkulasi dampaknya bagi aset risk-on atau risk-off. Implikasi ini membuat GBP lebih sensitif terhadap pergeseran ekspektasi kebijakan.
Walau demikian, potensi pemotongan turut membawa tantangan bagi GBP dalam jangka pendek karena menandakan kinerja ekonomi yang cenderung lebih lemah dibanding mitra utama. Investor menantikan konfirmasi data inflasi dan dinamika tenaga kerja yang lebih jelas untuk menilai keseimbangan antara stabilitas pertumbuhan dan inflasi. Secara keseluruhan, ruang kebijakan BoE menambah tekanan pada GBP jika ekspektasi pemangkasan semakin kuat.
Strategi kebijakan BoE dibangun di atas kerangka risiko ketenagakerjaan yang tetap tinggi. Ketika pengangguran tetap dekat level pasca pandemi, keputusan pemotongan menimbang dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan. Pasar menilai pergeseran kebijakan sebagai destinasi utama bagi GBP dalam beberapa kuartal mendatang.
Perubahan tersebut juga mempengaruhi pergerakan GBP terhadap pasangan utama. GBP cenderung menguat terhadap USD dalam beberapa sesi, namun melemah terhadap EUR seiring pergeseran ekspektasi kebijakan di zona euro. Volatilitas pasar valuta asing tetap tinggi, sehingga perubahan kebijakan BoE bisa menambah arah gerak yang lebih luas.
Secara keseluruhan, profil risiko dan prospek inflasi di Inggris menandakan bahwa pergerakan GBP akan tetap sensitif terhadap data tenaga kerja, inflasi, dan kebijakan BoE. Proyeksi pasar memperkirakan pemotongan 50bp dalam 12 bulan ke depan sebagai skenario utama, meski realisasi akan tergantung data aktual. Investor disarankan memantau rilis inflasi untuk menilai perubahan kurva imbal hasil.