GBP/USD tampak melemah di kisaran 1.3315 pada sesi Eropa awal, didorong oleh penguatan dolar AS yang berfungsi sebagai aset safe-haven. Pasar menilai risiko inflasi global meningkat seiring eskalasi geopolitik yang menambah ketidakpastian terhadap pergerakan mata uang utama. Selain itu, investor menanti rilis pembacaan awal PMI dari UK dan US yang akan menjadi sinyal awal arah tren untuk minggu ini.
Harga minyak mengalami lonjakan akibat konflik antara negara-negara besar dan potensi gangguan pasokan di wilayah penting produksi. Brent crude menyentuh level di atas 100 dolar per barrel, mendorong kekhawatiran stagflation dan memperkuat posisi dolar sebagai pelindung nilai. Kondisi ini menambah tekanan terhadap GBP sambil pasar menimbang dampak kebijakan moneter terhadap laju inflasi.
Peluang pergerakan GBP masih dipengaruhi kebijakan moneter dan dinamika global. Sinyal pasar mencerminkan kehati-hatian seiring para pelaku pasar menilai bagaimana BoE merespons tekanan inflasi dan probabi jika data PMI mengubah ekspektasi. Katalis tingkat kebijakan dari BoE dan perkembangan geopolitik akan menjadi fokus utama dalam beberapa sesi ke depan.
Bank of England mempertahankan suku bunga di 3.75% pada pekan lalu, menandai sikap berhati-hati terhadap tekanan inflasi yang lebih tinggi. Bank sentral Inggris juga memperingatkan bahwa kejutan pada ekonomi akan mendorong inflasi lebih tinggi dalam jangka pendek meskipun proyeksi pertumbuhan untuk 2026 direvisi turun. Kebijakan ini menambah volatilitas GBP di pasar valuta asing.
Data PMI yang dirilis nanti dipantau ketat karena bisa mengubah persepsi tentang arah ekonomi. Pembacaan awal PMI UK dan US akan menjadi indikator penting untuk mengukur momentum aktivitas, investasi, dan ketenagakerajaan. Selain itu, data tenaga kerja yang menunjukkan kenaikan pengangguran menambah kekhawatiran pasar terhadap prospek GBP di paruh kedua tahun ini.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat, dengan Iran mengancam retaliasi atas potensi serangan terhadap fasilitas energi negara tersebut. Pernyataan tersebut disertai pidato Trump tentang pembukaan Selat Hormuz menjadi isu sensitif bagi arus perdagangan minyak global. Dalam konteks domestik, pemerintah Inggris menggelar rapat darurat mengenai dampak konflik terhadap ekonomi dan inflasi, kebijakan fiskal, serta proyeksi reformasi anggaran.