Pound Sterling menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS karena meningkatnya ketegangan di wilayah Timur Tengah. Pasar menerapkan sikap risk-off, memicu permintaan terhadap dolar sebagai aset pelindung. Sentimen investor pun terpengaruh oleh kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dan volatilitas geopolitik.
Selain itu, dolar AS menguat didorong oleh eskalasi tersebut, dengan indeks DXY yang melonjak sekitar 0,6 persen. S&P 500 futures terlihat melemah meski penurunan di akhir pekan. Pergerakan pasangan GBPUSD tetap sensitif terhadap berita geopolitik dan perubahan risiko global.
Di dalam negeri, investor menanti rilis data ekonomi Inggris seperti PMI flash untuk Maret dan CPI Februari yang diperkirakan mempengaruhi ekspektasi inflasi. BoE sebelumnya mempertahankan suku bunga pada 3,75% dan menyesuaikan proyeksi CPI Q3 akibat gangguan harga energi dunia. Meski ada dukungan sebagian dari tekanan biaya energi, gambaran inflasi tetap menjadi risiko bagi sterling.
Harga GBPUSD saat ini berada di sekitar 1,3260, dengan nada bearish yang cukup kuat. Banyak analis menunggu konfirmasi tembus level kunci di sekitar 1,3250 untuk mengonfirmasi arah berikutnya. Jika sentimen risiko tetap negatif, tekanan turun bisa berlanjut meski ada tantangan dari data ekonomi Inggris.
Penembusan di bawah 1,3250 bisa membuka jalan bagi penurunan lebih lanjut, sementara dinamika dolar AS yang lebih kuat memperkuat skenario tersebut. Selain itu, volatilitas geopolitik dan rilis data ekonomi akan menjadi penentu arah dalam beberapa sesi ke depan. Investor disarankan memadukan analisis fundamental dengan manajemen risiko yang ketat.
Sinyal trading yang dianalisis adalah posisi jual di sekitar 1,3260 dengan target keuntungan di 1,3060 dan stop loss di 1,3360. Rasio risiko-imbalan sekitar 1:2 memungkinkan menghadapi volatilitas yang lekat pada berita regional dan data UK yang akan datang. Untuk manajemen risiko, sesuaikan ukuran posisi dan pantau pergerakan pasar secara berkala.