IHSG turun tajam pada Senin, 2 Februari 2026, menandai kelanjutan aksi jual terhadap saham-saham konglomerat raksasa. Data BEI menunjukkan IHSG terkoreksi sebesar 4,47 persen menjadi 7.957,30. Nilai transaksi tercatat Rp8,79 triliun dengan volume perdagangan mencapai 14,93 miliar lembar saham. Kondisi ini menambah beban investor yang mencari petunjuk arah pasar di tengah radar regulasi dan kepemilikan yang saat ini jadi sorotan.
Peringatan MSCI mengenai investabilitas dan transparansi kepemilikan memicu suasana hati pelaku pasar. MSCI menunda perubahan indeks hingga regulator Indonesia menuntaskan isu kepemilikan yang dinilai terlalu terkonsentrasi dan membatasi likuiditas melalui free float yang rendah. Langkah ini menegaskan bahwa kelayakan investasi menjadi fokus utama bagi investor asing maupun domestik.
Dalam konteks respons kebijakan, laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami dinamika ini secara lebih jelas. Otoritas Jasa Keuangan bersama Self Regulatory Organization menyiapkan langkah konkret seperti peningkatan data kepemilikan emiten dan kajian rencana aturan free float minimal 15 persen bagi emiten baru maupun yang telah tercatat.
Saham-saham big cap mengalami tekanan signifikan dengan pelemahan luas. BRMS milik Grup Bakrie-Salim turun hingga 13,89 persen ke Rp930 per unit, diikuti DSSA turun 13,51 persen ke Rp85.550 per unit. Sementara itu, BRPT tergerus 12,73 persen, CDIA 11,91 persen, CUAN 10,00 persen, dan BREN turun 7,04 persen. Tekanan serupa mencerminkan kekhawatiran investor terkait kelayakan prospek emiten besar yang terkait dengan konsentrasi kepemilikan.
Rangkaian penurunan juga terlihat pada saham AMMN sebesar 11,18 persen dan PANI sebesar 9,41 persen, menambah beban pada ekosistem indeks. Kondisi ini menyoroti tantangan likuiditas ketika volume perdagangan menipis dan volatilitas meningkat karena aliran jual yang agresif.
Sebelumnya, IHSG sempat turun tajam sekitar 8 persen secara intraday pada 28 dan 29 Januari lalu, yang memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt) selama 30 menit. Fenomena ini menggambarkan dinamika likuiditas yang lebih volatil di tengah tekanan eksternal dan sentimen regulasi.
MSCI menunda perubahan indeks hingga regulator Indonesia menuntaskan isu kepemilikan saham, menyinggung potensi dampak fundamental terhadap investabilitas. Penundaan ini menambah waktu bagi pelaku pasar untuk menilai perubahan struktur kepemilikan dan likuiditas yang lebih luas.
OJK dan regulator terkait menyiapkan langkah-langkah seperti penyajian data kepemilikan emiten yang lebih rinci sesuai praktik internasional serta rencana penerapan free float minimum 15 persen bagi emiten baru maupun yang telah tercatat. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan likuiditas dan menarik minat investor asing.
Seiring dengan dinamika kebijakan, beberapa perubahan kepemimpinan di OJK turut menjadi sorotan. Pada akhirnya, Friderica Widyasari Dewi ditetapkan sebagai Anggota Dewan Komisioner, diikuti Hasan Fawzi sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal dan akan menjalankan peran baru. Penunjukan ini menambah dinamika kebijakan pasar modal Indonesia dan menandai fase evaluasi kepatuhan serta tata kelola.