PWON memulai 2025 dengan gebrakan yang mengguncang pasar properti: kinerja yang tahan banting berkat portofolio terdiversifikasi dan strategi jangka panjang yang terukur. Laporan lengkap ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca yang ingin memahami fondasi kuat di balik angka-angka quarterly ini.
Untuk tahun 2025 PWON mencatat pendapatan bersih sebesar Rp7,11 triliun dan laba bersih sebesar Rp2,76 triliun, keduanya tumbuh 7% dan 14% secara YoY. Gambaran ini mencerminkan pelaksanaan proyek yang efektif serta efisiensi operasional yang terjaga di sepanjang lini bisnis.
Penurunan kerugian kurs sebesar 18% menjadi Rp165 miliar turut mengangkat laba bersih; jika faktor kurs dihilangkan, laba bersih PWON mencapai Rp2,92 triliun, menandakan daya dorong fundamental yang solid.
Pendapatan berulang menjadi pilar utama keuangan PWON dengan Rp5,62 triliun, naik 8% YoY. Kontribusi terbesar berasal dari pusat perbelanjaan ritel yang menjadi motor arus kas dan margin operasional yang relatif stabil.
Segmen pembangunan menyumbang Rp1,49 triliun, naik 1% YoY, sedangkan sewa perkantoran turun 26% menjadi Rp273 miliar. Bisnis perhotelan juga tumbuh tipis menjadi Rp1,42 triliun, menunjukkan permintaan pasar yang terus terpelihara.
Pusat perbelanjaan tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 55% dari total pendapatan. Sementara hotel/ serviced apartment berkontribusi sekitar 20%, disusul sewa perkantoran 4%, kondominium 14%, rumah 6%, dan penjualan perkantoran 1%.
EBITDA tercatat Rp3,71 triliun dengan margin 52% (berkisar lebih rendah dari 54%). Prapenjualan 2025 mencapai Rp1,3 triliun, dan sekitar 63% berasal dari insentif PPN/DTP yang diberlakukan sejak 2023. Struktur penjualan didominasi kondominium dan office sebesar 62% dan landed house 38%.
Belanja modal 2025 sebesar Rp1,21 triliun difokuskan untuk proyek utama seperti Superblok Pakuwon Mall Bekasi dan Pakuwon City Mall Surabaya tahap 3 dan 5, dengan tujuan memperkuat portofolio komersial dan residensial.
Marketing sales mencapai Rp1,3 triliun, menunjukkan daya tarik pasar terhadap produk properti PWON. Sekitar 63% berasal dari insentif PPN/DTP, dengan komposisi penjualan 62% kondominium/office dan 38% landed house, menegaskan fokus pada segmen inti.
Secara keseluruhan, PWON memperlihatkan resiliensi di lanskap properti Indonesia melalui diversifikasi aset, eksekusi proyek tepat waktu, dan kapasitas menarik investor yang mengapresiasi nilai jangka panjang aset properti ritel dan residensial.