Kebijakan terbaru BEI mengenai konsentrasi kepemilikan saham menyoroti dinamika pasar modal Indonesia secara langsung. Banyak saham dengan kepemilikan di atas 95% bisa menimbulkan volatilitas yang lebih besar ketika pemegang utama melakukan penyesuaian posisi. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi perdagangan harian, tetapi juga kecepatan dan ketersediaan saham untuk transaksi publik.
BEI bekerja sama dengan KSEI melalui Surat Keputusan Bersama untuk memperkuat transparansi likuiditas. Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa langkah ini dimaksudkan agar investor memperoleh informasi yang lebih jelas tentang tingkat likuiditas. Penelaahan skema ini mengindikasikan komitmen bursa untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan investor ritel dan struktur kepemilikan di perusahaan-perusahaan terdaftar.
Menimbang adanya konsentrasi tinggi, BEI menilai saham-saham seperti ini berisiko meningkatkan volatilitas harga. Selain potensi keterbatasan saham yang tersedia untuk diperdagangkan, perubahan kepemilikan mendekap dinamika pasar secara lebih tajam. BEI akan mengumumkan saham HSC yang terdampak setelah penelaahan dilakukan, dan pembaruan akan dirilis paling lambat lima hari setelah evaluasi.
BEI mengumumkan sembilan saham yang memenuhi kriteria high shareholding concentration atau HSC. Tingkat kepemilikan terkonsentrasinya berada di atas 95 persen dari total saham beredar. Kebijakan ini adalah bagian dari upaya meningkatkan transparansi bagi investor.
Berikut adalah daftar saham yang termasuk dalam kategori HSC menurut BEI, beserta persentase kepemilikan terkonsentrasinya. Angka-angka tersebut menunjukkan betapa dominannya pemegang saham utama di saham-saham terdaftar. Berikut tabel yang merinci sembilan saham HSC dan persentasenya.
| Saham | Kepemilikan Terkonsentrasi (%) |
|---|---|
| ROCK | 99,85 |
| IFSH | 99,77 |
| SOTS | 98,35 |
| AGII | 97,75 |
| BREN | 97,31 |
| MGLV | 95,94 |
| DSSA | 95,76 |
| LUCY | 95,47 |
| RLCO | 95,35 |
Dari sembilan saham tersebut, dua konstituen MSCI Indonesia Large Cap adalah BREN dan DSSA dengan bobot masing-masing 4,21% dan 5,04% dalam indeks tersebut per akhir Februari 2026. Investor dapat melihat bagaimana kepemilikan terkonsentrasi mempengaruhi bobot indeks dan potensi dampak terhadap portofolio indeks sektor terkait.
Implikasi kebijakan HSC bagi investor meliputi peningkatan kewaspadaan terhadap likuiditas dan volatilitas. Investor perlu menilai risiko ini saat menyusun strategi perdagangan dan alokasi aset. BEI menegaskan bahwa mekanisme penelaahan dilakukan sebelum publikasi daftar HSC, dengan pembaruan paling lambat lima hari setelah evaluasi.
Secara kebijakan, BEI menekankan bahwa daftar HSC hanya akan diumumkan setelah melalui mekanisme penelaahan yang disepakati dengan KSEI. Jika tidak ada perubahan kondisi, BEI menyatakan saham tersebut tidak akan diumumkan karena kondisinya dianggap tetap. Praktik di Hong Kong menjadi referensi, karena saham HSC di sana dapat dicoret dari indeks MSCI sebagai langkah disiplin bagi pemegang saham dominan.
Investor disarankan melakukan monitoring berkala dan memahami bahwa dinamika kepemilikan dapat memicu volatilitas harga. Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami lanskap kepemilikan terkonsentrasi dan implikasinya bagi portofolio, tanpa memberikan rekomendasi trading spesifik.