
ADHI Tbk membikin gebrakan lewat laporan laba bersih Rp154 miliar untuk kuartal I-2026, lonjakan fantastis 48.000% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini menandai fase pemulihan yang kuat bagi perusahaan di sektor konstruksi nasional. Kehadirannya di pasar menjadi indikator bahwa ADHI mampu memanfaatkan momentum proyek infrastruktur besar meski dinamika persaingan tetap ketat.
Pendapatan usaha tercatat sekitar Rp1,7 triliun, dengan kontribusi utama berasal dari proyek infrastruktur yang dikerjakan melalui Joint Operation JO maupun Non Joint Operation NJO. Proyek-proyek kunci seperti Jalan Tol Jogja-Bawen Paket 1, Jalan Tol Solo-Jogja 1.1, serta EPCC Jetty Propylene disebut sebagai penggerak utama aliran pendapatan perusahaan. Kinerja pendapatan ini sejalan dengan kontrak baru yang berhasil diraih ADHI pada kuartal tersebut senilai Rp4,72 triliun, tumbuh signifikan dibanding periode sebelumnya.
Secara operasional, laba kotor tercatat Rp553 miliar, dan EBITDA meningkat 46% YoY menjadi Rp464 miliar. Peningkatan ini mencerminkan efisiensi biaya serta pelaksanaan pekerjaan yang lebih terkelola pada proyek-proyek utama. Dukungan kinerja juga terlihat pada keseimbangan antara aset dan sumber pembiayaan meski perusahaan tetap menjaga likuiditas yang relatif sehat.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Laba Bersih | Rp154 miliar |
| Pendapatan Usaha | Rp1,7 triliun |
| Kontrak Baru (Q1-2026) | Rp4,72 triliun |
| EBITDA | Rp464 miliar |
| Laba Kotor | Rp553 miliar |
Dari sisi rasio, ADHI menunjukkan profil leverage yang cukup tinggi dengan Debt to Equity Ratio DER berbasis Interest Bearing Debt sebesar 2,4 kali. Sementara itu, EBITDA to Interest TIE berada pada 2,55 kali, dan Current Ratio tercatat 1,01 kali, menandakan tingkat likuiditas yang mendekati batas aman. Dengan total aset mencapai Rp28,1 triliun, liabilitas Rp24,7 triliun, serta ekuitas Rp3,5 triliun, neraca perusahaan menggambarkan struktur pembiayaan yang perlu diawasi ketat untuk menjaga stabilitas operasional.
Proyek infrastruktur yang telah disebutkan menjadi pilar utama ekspektasi pendapatan di masa mendatang. ADHI menerima kontrak baru besar yang menambah portofolio pekerjaan Tol dan fasilitas EPCC propylene, sehingga potensi arus kas jangka menengah tetap kuat. Menurut Cetro Trading Insight, fokus pada infrastruktur berkelas sedang memperkuat peluang kontrak baru serta pemulihan marjin seiring kemajuan proyek berjalan.
Namun, beban leverage yang relatif tinggi dan dinamika arus kas proyek menuntut kehati-hatian investor. Meski prospek positif dari proyek infrastruktur memberikan jalan bagi pertumbuhan, ketidakpastian regulasi dan variasi pembiayaan proyek bisa mempengaruhi laju kinerja. Karena harga saham ADHI tidak disebutkan dalam analisis ini, rekomendasi trading tidak dapat disarankan secara spesifik, sehingga sinyal pasar tetap no sampai ada data harga dan level teknikal yang memadai.