ADP dan Penjualan Ritel Dorong Imbal Hasil US Treasuries; Pasar Menanti Data NFP

ADP dan Penjualan Ritel Dorong Imbal Hasil US Treasuries; Pasar Menanti Data NFP

trading sekarang

Data ADP Employment Change untuk Maret menunjukkan penambahan pekerjaan sebanyak 62.000, melebihi proyeksi konsensus di 40.000. Namun angka ini berada 4.000 lebih rendah dari rekor bulan Februari, menandakan dinamika tenaga kerja yang masih bergejolak. Pasar merespons dengan sentimen berhati-hati karena efeknya terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve tetap relevan.

Penjualan ritel Februari naik 0,6% secara bulanan, tertinggi dalam tujuh bulan, dan melampaui estimasi 0,5% serta kontraksi Januari sebesar -0,1%. Data ini menambah benang merah bahwa permintaan konsumen masih cukup kuat meskipun tekanan inflasi tetap menjadi fokus utama otoritas moneter. Imbal hasil obligasi AS pun bergerak, mengiringi arah data tersebut.

Indeks dolar AS (DXY) turun sekitar 0,27% menuju 99,58, memberikan dukungan bagi harga logam mulia dan pembalikan sebagian tekanan pada pasar obligasi. Sinyal inflasi jangka menengah tetap tinggi terlihat lewat pasar breakeven imbal hasil 5 tahun dan 10 tahun yang sedikit menurun, menambah kompleksitas bagi pelaku pasar dalam menyimpulkan arah kebijakan moneter.

Penyelidikan ISM menunjukkan harga pembelian input pabrik berada pada level tertinggi dalam hampir empat tahun, menggarisbawahi kembali tekanan biaya yang perlu direspons kebijakan moneter. Para pejabat Federal Reserve menegaskan bahwa lebih banyak kerja diperlukan untuk menurunkan inflasi ke target 2%. Ketika ekspektasi inflasi naik, beberapa pejabat menilai perlunya langkah kebijakan yang lebih tegas.

Gubernur Michael Barr menyatakan perlunya kerja lebih lanjut, sementara Thomas Barkin dari Fed Richmond memperingatkan bahwa jika ekspektasi inflasi meningkat, tindakan kebijakan akan diperlukan. Meski demikian, bank sentral seperti St. Louis Fed menilai kebijakan saat ini masih berada pada ujung rendah rentang netral, dengan risiko gangguan pasokan tetap menjadi ancaman tekanan inflasi. Peringatan tersebut menegaskan bahwa kebijakan akan bergantung pada perkembangan harga dan keseimbangan permintaan.

Pergerakan indeks dolar AS menurun, sementara pasar breakeven inflasi 5-tahun dan 10-tahun menunjukkan penurunan yang mencerminkan ekspektasi inflasi menengah turun. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar yang menilai peluang kebijakan yang lebih bersahabat pada jangka menengah, meskipun ketidakpastian tetap ada seiring data tenaga kerja dan harga input bergejolak.

Para pelaku pasar menantikan klaim pengangguran awal dan pidato pejabat Fed yang dijadwalkan Kamis, dengan laporan Nonfarm Payrolls bulan Maret menjadi fokus utama pada Jumat meskipun ada libur nasional di AS. Peluang kejutan data tenaga kerja tetap menjadi faktor kunci yang bisa mengubah narasi kebijakan moneter. Kondisi ini membuat investor lebih berhati-hati dalam menimbang arah imbal hasil obligasi.

Imbal hasil US 10-tahun berpotensi bergerak sesuai dengan perubahan ekspektasi pasar terhadap laju pertumbuhan dan inflasi. Respons investor terhadap data NFP bisa mengoreksi kurva imbal hasil, dengan pergerakan harga obligasi yang mencerminkan arc kebijakan moneter ke depan. Sementara itu, fokus pelaku pasar juga meluas pada bagaimana perubahan imbal hasil dan dolar mempengaruhi aset berisiko seperti saham dan komoditas berhubungan.

Dalam hangatnya liputan pasar, Cetro Trading Insight menilai rilis data tenaga kerja bisa menjadi penentu arah jangka pendek bagi obligasi dan mata uang terkait. Analisis kami menunjukkan bahwa pergerakan yield curve kemungkinan akan tetap volatil hingga klarifikasi narasi kebijakan Fed, sambil tetap memperhatikan dinamika permintaan domestik dan output industri.

broker terbaik indonesia