
Pasar saham Asia melaju dengan tenaga kilat setelah lonjakan dorongan kecerdasan buatan (AI) dan permintaan chip yang memberi nafask baru bagi sektor teknologi. Di tengah ketidakpastian geopolitik, para pelaku pasar melihat peluang besar dalam transformasi digital yang dicanangkan oleh rencana investasi publik dan swasta pemerintah Jepang. Menurut Cetro Trading Insight, momentum ini mencerminkan perubahan struktural yang bisa berpengaruh pada aliran modal jangka menengah.
Di Jepang, Nikkei 225 menembus level 72.000 untuk pertama kalinya, naik 1,4% menjadi 72.247,21, setelah sempat menyentuh rekor intraday 72.269,64. Sementara TOPIX menguat 1,1% menjadi 4.089,59. Rencana pemerintah yang diinisiasi Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk menggelontorkan sekitar 370 triliun yen hingga 2040 ke sektor strategis seperti AI dan industri chip menjadi pendorong utama pasar.
Investor tetap berhati-hati terhadap perkembangan negosiasi damai antara AS dan Iran serta potensi gejolak di Timur Tengah yang berpotensi memicu volatilitas harga minyak dan inflasi. Kendati demikian, nada positif pada sektor AI dan semikonduktor menjaga momentum bullish di pasar Asia, menurut analisa Cetro Trading Insight.
Di Korea Selatan, indeks KOSPI melonjak hampir 2% ke sekitar 9.230, menandai rekor tertinggi baru setelah sebelumnya terkoreksi. Saham-saham teknologi menjadi penopang utama seiring meningkatnya optimisme atas permintaan chip global yang didorong oleh kemajuan AI.
Data menunjukkan ekspor Korea Selatan melonjak 60,4% secara tahunan untuk 20 hari pertama Juni, sedangkan pengiriman semikonduktor hampir meningkat tiga kali lipat, mencerminkan permintaan global yang kuat terhadap komponen AI. Beberapa raksasa chip seperti SK Hynix naik sekitar 4%, SK Square melonjak lebih dari 8%, dan Samsung Electronics menguat sekitar 1%.
Optimisme sektor chip juga meningkat karena laporan bahwa eksekutif LG Group akan bertemu dengan Nvidia pekan ini untuk membahas kerja sama di bidang AI dan robotika, menambah sentimen positif pada pasar regional. Namun risiko geopolitik dan harga minyak tetap menjadi faktor pengawas bagi kebijakan pasar global.