Alokasi Kas Domestik Capai Rekor 3 Tahun, CGSI Ungkap Peluang Saham Unggulan di Pasar Indonesia Juni 2026

Alokasi Kas Domestik Capai Rekor 3 Tahun, CGSI Ungkap Peluang Saham Unggulan di Pasar Indonesia Juni 2026

trading sekarang

Porsi dana tunai pada reksa dana domestik mencapai rekor tertinggi dalam tiga tahun pada Juni 2026, menandai pergeseran besar dalam likuiditas pasar. Pergerakan rupiah yang melemah dan peringatan kebijakan dari lembaga indeks global menjadi pemicu utama bagi manajer investasi untuk menambah likuiditas di kas. Di Cetro Trading Insight, kami melihat langkah ini sebagai sinyal kehati-hatian yang sehat, bukan gejala panik, karena menjaga likuiditas bisa memperkuat ketahanan portofolio selama volatilitas meningkat.

Berdasarkan riset CGS Internasional Sekuritas Indonesia CGSI yang dirilis 23 Juli 2026, porsi kas tercatat 11,64% pada Juni 2026, naik tipis dari 11,57% bulan sebelumnya. Angka ini menjadi level tertinggi sejak data dipantau pertama kali pada Januari 2023 dan mencerminkan perubahan struktur kepemilikan menuju aset kas yang lebih likuid. Ketidakpastian terkait implementasi Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam DSI turut memperkuat preferensi terhadap likuiditas sebagai pelindung terhadap potensi volatilitas pasar.

CGSI juga mencatat bahwa dana domestik meningkatkan kepemilikan pada AMMN Amman Mineral Internasional Tbk secara agresif, sambil memangkas kepemilikan pada saham logam, energi, dan produsen minyak sawit. Sementara itu, pembelian saham berorientasi domestik meningkat pada sektor kesehatan seperti KLBF dan MIKA. Meski ada tekanan pada beberapa sektor terkait kebijakan DSI, CGSI menilai saham pertambangan tetap menarik jika kebijakan berjalan secara moderat menurut pedoman pemerintah.

Kepemilikan di saham domestik menunjukkan pergeseran yang cukup jelas ke saham-saham yang didorong oleh permintaan pasar dalam negeri. Dana domestik terlihat memperkuat pembelian pada sektor-sektor defensif dan layanan kesehatan, sementara aset asing menekan sektor komoditas akibat persepsi risiko kebijakan DSI. Perubahan ini menambah dinamika harga dan likuiditas di pasar modal domestik.

Valuasi saham dalam cakupan riset CGSI masih terjangkau, dengan P/E 2026 sekitar 8,1 kali. Jika rencana perbaikan kebijakan fiskal berhasil, valuasi bisa meningkat menjadi sekitar 9,5 kali, meski masih berada di bawah level sekitar 11 kali pada awal 2026. Analisa ini menunjukkan potensi re-rating yang mendukung pemulihan harga di sektor-sektor berfundamental kuat meski volatilitas tetap ada.

Di sisi lain, kepemilikan saham investor asing secara nominal telah kembali ke level pandemi 2020, sementara pangsa pasar mereka turun ke level terendah sejak 2009. Faktor-faktor eksternal seperti volatilitas global, risiko geopolitik, dan likuiditas pasar internasional menjadi motor penggerak utama. Stabilitas rupiah diperkirakan meningkat seiring langkah BI proaktif dan upaya pemerintah menurunkan defisit fiskal, menambah optimisme pasar terhadap prospek jangka menengah.

CGSI mempertahankan pandangannya bahwa IHSG 2026 berpotensi mencapai 7.000, mencerminkan kenaikan sekitar 12 persen dari level saat ini. Proyeksi ini bergantung pada dinamika kebijakan fiskal dan momentum pemulihan konsumsi domestik yang didorong oleh pembiayaan ventura dan reformasi struktural. Dalam kerangka tersebut, beberapa saham unggulan menjadi rujukan bagi investor untuk memetakan arah pasar kedepan.

Saham pilihan utama CGSI meliputi BBCA, BBNI, BMRI, ASII, TINS dan sektor lain seperti KLBF, EXCL, MYOR, MAPA, serta WIIM. Pilihan-pilihan ini mencerminkan kombinasi kualitas perbankan, sektor industri, dan konsumsi yang dianggap resilient terhadap gangguan eksternal. Investor disarankan memperhatikan dinamika kepemilikan dan faktor fiskal yang dapat mempengaruhi arah harga jangka pendek hingga menengah.

Di tengah dinamika global, konsistensi kebijakan fiskal dan moneter sangat diperlukan untuk memulihkan kepercayaan investor. Pembaruan status Indonesia oleh FTSE Russell pada September 2026 dan MSCI pada akhir Oktober 2026 diperkirakan menjadi faktor penting yang bisa menggerakkan sentimen pasar. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dan kepatuhan pada kerangka kebijakan untuk menjaga stabilitas sambil meraih peluang pertumbuhan IHSG di era pasca pandemi.

banner footer