AMRT mencatat laba bersih Rp3,41 triliun pada 2025, naik 8,34% dibanding periode sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan juga signifikan, mencapai Rp126,73 triliun atau kenaikan 7,2% berkat ekspansi gerai di wilayah luar Jawa. Laporan keuangan yang dirilis pada Jumat, 27 Maret 2026, menyoroti bahwa laba bersih meningkat sejalan dengan peningkatan pendapatan.
Beban pokok pendapatan meningkat menjadi Rp98,98 triliun, sehingga laba bruto naik menjadi Rp27,75 triliun. Meski ada peningkatan biaya operasional, margin laba meningkat karena efisiensi pada sektor ritel. Pendorong utama kinerja tetap ekspansi jaringan dan peningkatan volume penjualan di wilayah non-Jawa.
Di sisi lain, AMRT mencatat kerugian dari entitas asosiasi sebesar Rp137 miliar pada kuartal IV-2025, terdorong oleh Alfamart Trading Philippines Inc. Meskipun demikian, gambaran kinerja secara keseluruhan tetap positif dan menunjukkan diversifikasi operasional yang lebih luas. Laporan menegaskan bahwa pos aset, liabilitas, dan ekuitas secara konsisten sehat seiring dengan akumulasi laba yang beriringan dengan ekspansi.
Total aset perseroan per 31 Desember 2025 mencapai Rp42,57 triliun, dengan liabilitas Rp23,19 triliun dan ekuitas Rp19,36 triliun. Hingga akhir 2025, Alfamart memiliki 21.120 gerai retail dan 359 gerai stock point di seluruh Indonesia. Distribusi wilayah menunjukkan 25% gerai berada di Jabodetabek, 40% di Jawa non-Jabodetabek, dan 35% di luar Jawa, menandakan kekuatan jangkauan pasar yang luas.
Pertumbuhan jaringan dan skala operasional mendongkrak kemampuan perusahaan untuk meraih volume penjualan yang lebih besar. Per 2025, ekspansi di luar Jawa menjadi fokus strategis yang mendukung peningkatan penetrasi pasar. Keterjangkauan geografis ini membentuk fondasi bagi prospek laba yang lebih kokoh di masa mendatang.
Analisis oleh Cetro Trading Insight menilai dinamika ini sebagai pilar fundamental yang layak dipantau. Meski terkait entitas terkait internasional memiliki risiko, kapasitas Alfamart dalam memperkuat posisi pasar ritel modern Indonesia tetap menjadi indikator positif bagi investor jangka menengah. Dengan profil keuangan yang kuat, potensi sinergi operasional dan peningkatan skala usaha menjanjikan peluang investasi yang relevan.