
Menurut Cetro Trading Insight, analisis Commerzbank menunjukkan bahwa laju pertumbuhan laba industri China melambat menjadi 21,1% secara tahunan pada Mei, turun dari 24,7% di April. Perubahan ini menandakan momentum yang lebih lemah bagi sektor manufaktur dan industri secara luas. Meskipun angka headline masih terdengar positif, dinamika di pasar menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga dan investasi secara relatif masih lemah. Dalam konteks ini, ekspor tetap kuat dan tekanan harga produsen yang lebih tinggi tidak sepenuhnya mengimbangi tekanan domestik.
Para analis menilai bahwa momentum tersebut perlu diwaspadai oleh pembuat kebijakan karena laju pertumbuhan yang melambat bisa memperbesar risiko perlambatan aktivitas ekonomi. Data PMI resmi manufaktur dan non-manufaktur diperkirakan turun ke wilayah kontraksi pada bulan ini, meskipun konsensus Bloomberg menilai keduanya tetap berada di zona ekspansi tipis (50,1 untuk manufaktur dan 50,0 untuk non-manufaktur). Jika skenario ini terwujud, respons kebijakan perlu disesuaikan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Secara keseluruhan, perlambatan laba industri menambah tekanan pada pembuat kebijakan untuk mendukung permintaan domestik. Meskipun ekspektasi pemotongan suku bunga telah menurun, beberapa analis masih melihat peluang potongan 10 basis poin oleh PBoC pada paruh kedua tahun ini sebagai langkah pendukung aktivitas.
Secara kebijakan, Beijing menahan diri sambil menekankan perlunya kemajuan di bidang teknologi inti, kemandirian teknologi, dan ketahanan rantai pasokan industri. Wakil Perdana Menteri He Lifeng, dalam kunjungan ke Sichuan, menekankan perlunya akselerasi terobosan teknologi dan peningkatan kapasitas produksi untuk mendorong pertumbuhan manufaktur berkelas dunia. Narasi ini menunjukkan komitmen pemerintah pada manufaktur canggih sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang.
Walau ekspektasi pemotongan suku bunga mulai berkurang, pasar tetap melihat peluang sekitar 10 basis poin potongan PBoC di paruh kedua tahun ini. Proyeksi ini sejalan dengan fokus Beijing pada respons kebijakan yang tidak terlalu agresif namun cukup untuk menahan perlambatan. Kondisi ini membuat kebijakan menjadi kunci penopang aktivitas ekonomi sambil menunggu pemulihan permintaan domestik.
Di sisi lain, pergerakan di pasar valuta asing menunjukkan reaksi terhadap ekspektasi kebijakan dan PMI. USD/CNY naik sekitar 30 pips menjadi 6,80, sedangkan offshore USD/CNH juga menguat sekitar 30 pips dalam minggu terakhir. Pergerakan ini mencerminkan evaluasi pasar terhadap kekuatan dolar relatif terhadap yuan jika kebijakan moneter cenderung lebih longgar.
Dari sudut pandang fundamental, arah utama USD/CNY tampak dipengaruhi oleh potensi potongan PBoC dan pembacaan PMI yang bisa berakhir di kontraksi. Jika PMI menunjukkan pelemahan lebih lanjut, ekspektasi pelonggaran kebijakan bisa menguatkan sentimen tuku dolar terhadap yuan dalam jangka pendek. Namun secara jangka menengah, sentimen tersebut bisa berubah tergantung pada langkah-langkah yang diambil otoritas.
Secara teknikal, momentum harga saat ini memberi gambaran bahwa ada ruang untuk koreksi lebih lanjut jika data ekonomi memburuk. Trader perlu mempertimbangkan level risiko dan volatilitas yang terkait dengan rilis data PMI berikutnya. Konsistensi kebijakan dan stabilitas fiskal tetap menjadi faktor penentu arah di pasar valuta asing China.
Sinyal perdagangan yang kami rekomendasikan adalah membeli USD/CNY dengan harga pembukaan sekitar 6,80. Target harga di 6,95 dan stop loss di 6,70 memberikan rasio risiko-imbalan sekitar 1:1,5. Realisasi sinyal bergantung pada pergerakan harga dan kestabilan faktor fundamental yang mendasarinya.