Deutsche Bank melalui analisnya Sanjay Raja memperkirakan minggu data Inggris kali ini akan relatif tenang. Fokus utama ekonomi bersinggung pada survei DMP bulanan yang mempertimbangkan dampak konflik di Iran, ekspektasi inflasi, dan rencana perekrutan perusahaan. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight, media analitik kami yang bertujuan memberikan gambaran pasar secara profesional.
Menurut dia, risiko kenaikan untuk pertumbuhan GDP Q4-25 hanya marginal. ONS diperkirakan akan mengonfirmasi pertumbuhan sekitar 0,1% secara q to q, sehingga fokus pelaku pasar tetap pada perubahan kecil yang bisa terlihat pada angka inti. Data ini memperlihatkan dinamika ekonomi yang stabil namun tidak mengejutkan pasar.
Raja menyoroti bahwa ekspektasi harga satu bulan berada di sekitar 4%, dengan 3-month moving average mendekati 3,6%. Ekspektasi upah yang diperkirakan tetap di 3,6% menambah gambaran stabilitas pasar tenaga kerja. Sementara itu, dia menekankan bahwa tren CPI pada tingkat perusahaan akan diawasi untuk memahami arah inflasi ke depan.
Raja menyatakan bahwa ONS kemungkinan mengonfirmasi PDB Q4-25 tumbuh 0,1% secara q/q. Meski terdapat risiko yang cenderung ke arah positif, daya dorongnya relatif terbatas karena nowcasts menunjukkan momentum yang kuat namun tidak besar. Secara umum, ini berarti sebagian besar pasar menahan diri menunggu konfirmasi data resmi.
Investasi bisnis bisa menunjukkan beberapa peningkatan, tetapi peningkatannya tidak cukup untuk mengubah gambaran keseluruhan headline. Data inti ekonomi tetap menjadi fokus, karena pergeseran di investasi sering kali tidak cukup untuk menggeser perhatian pasar dari konsumsi rumah tangga dan dinamika sektor terkait.
Ekspektasi inflasi pada skema jangka pendek cenderung meningkat. Ekspektasi CPI satu tahun ke depan untuk perusahaan diperkirakan melonjak ke sekitar 3,9%, yang membuat rata-rata 3 bulan naik menjadi sekitar 3,3%. Untuk horizon tiga tahun, ekspektasi CPI perusahaan diproyeksikan naik ke sekitar 3%, menunjukkan tekanan inflasi yang tetap ada meskipun pertumbuhan terlihat terkendali.
Analisis ini menyoroti bagaimana survei, ekspektasi inflasi, dan perubahan pertumbuhan bisa menjadi pemicu pergerakan pasar ke depan. Meskipun tidak ada lonjakan besar pada data utama, perubahan ekspektasi inflasi bisa menciptakan volatilitas jangka pendek pada imbal hasil obligasi dan pergerakan pasangan mata uang, tergantung pada konteks kebijakan moneter. Para pelaku pasar perlu memantau rilis data berikutnya dan menilai risiko terhadap portofolio mereka.
Pelaku pasar juga perlu mengamati tren konsumen dan rincian akun sektor secara lebih teliti. Data ini bisa mengungkap dinamika permintaan domestik yang membentuk arah kebijakan moneter dan prospek pertumbuhan. Dengan demikian, investor disarankan melakukan penilaian risiko lebih berhati-hati.
Kesimpulan dari analisis menunjukkan risiko cenderung ke upside, meskipun skalanya terbatas. Sinyal pasar pada jangka pendek terasa netral, dan fokus utama adalah pada perubahan ekspektasi inflasi serta dinamika pasar tenaga kerja sebagai indikator lebih lanjut bagi arah GDP ke depan.