Kabar mengejutkan mengguncang pasar saham Indonesia: PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menyiapkan langkah strategis berupa buyback saham hingga 10% dari modal ditempatkan. Langkah ini dirancang untuk menstabilkan langkah perusahaan menjelang aksi korporasi besar, sambil menjaga kepercayaan pemegang saham. Cetro Trading Insight menilai langkah ini sebagai sinyal kemantapan manajemen terhadap potensi merger yang sedang dijajaki.
Manajemen MORA melalui keterbukaan informasi BEI mengungkapkan bahwa Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 26 Maret 2026 menyetujui rencana Penggabungan Usaha dengan PT Eka Mas Republik (EMR). Dalam dokumen terkait, total saham beredar perseroan mencapai 23.646.668.691 saham, dengan batas 10% setara 2.364.666.869 saham yang bisa dibeli kembali.
Rincian teknis menunjukan harga pembelian ditetapkan Rp432 per saham, dengan nilai pembelian maksimum sekitar Rp1,021 triliun. Pembelian kembali ini menjadi bagian dari langkah lanjutan setelah persetujuan merger dan bertujuan memperkuat posisi perusahaan dalam proses penggabungan usaha yang ditargetkan berjalan mulus.
Rencana buyback memuat bahwa pemegang saham memenuhi syarat dapat kembali menjual saham sesuai batasan yang ditetapkan, yakni tidak melebihi 10% dari modal ditempatkan. Harga wajar yang ditetapkan ialah Rp432 per saham, dengan pagu dana maksimum Rp1,021 triliun. Ketentuan ini sengaja dibuat untuk menjaga hak pemegang saham minoritas sambil mendukung kelancaran merger.
Periode penjualan saham oleh pemegang saham yang tidak setuju akan berlangsung pada 1–10 April 2026, melalui mekanisme sistem perdagangan berbasis elektronik C-BEST. Pembayaran dan penyelesaian transaksi buyback direncanakan pada 17 April 2026, sejalan dengan jadwal merger yang ditetapkan.
Secara umum, langkah ini juga menegaskan komitmen manajemen terhadap nilai saham dan prospek integrasi dengan EMR. MORA menegaskan bahwa buyback dibatasi hingga 10% dari modal ditempatkan, sehingga peluang pembelian kembali tetap terukur dan sesuai peraturan pasar modal yang berlaku.
Secara analitis, aksi buyback cenderung dipandang sebagai sinyal positif terhadap kepercayaan pasar terhadap rencana merger. Namun, dampak pasti terhadap harga saham MORA akan sangat bergantung pada respons investor dan dinamika likuiditas pada saat pembayaran buyback dilakukan. Cetro Trading Insight menyarankan investor menilai berita ini dalam konteks tren fundamental perusahaan dan berita merger secara keseluruhan.
Jadwal penyelesaian merger juga diperkirakan berlangsung relatif singkat. Efektif pada 22 April 2026, merger antara MORA dan EMR akan menuntun perubahan struktur kepemilikan dan operasional perusahaan. Investor perlu memperhatikan penyelesaian teknis dan persetujuan otoritas terkait untuk menilai implikasi jangka panjang terhadap kinerja MORA.
Meski demikian, risiko tetap ada. Harga saham bisa berfluktuasi akibat persepsi pasar terhadap peluang sinergi, biaya integrasi, serta bagaimana pemegang saham yang menolak merger menggunakan haknya. Para investor disarankan mengkaji faktor-faktor utama secara menyeluruh dan menimbang timing eksekusi perdagangan sesuai profil risiko masing-masing.