Para ekonom ABN AMRO berpendapat putusan ini dapat menggeser kerangka tarif terhadap China. Dua landasan IEEPA yang sebelumnya dipakai—global reciprocity dan bagian fentanyl—telah dihapus, membuka kemungkinan penataan tarif lewat Section 122 dari Trade Act 1974 dengan kisaran sekitar 15 persen. Perubahan ini menandai penyimpangan dari skema sebelumnya dan menambah ketidakpastian bagi pelaku bisnis internasional.
Secara umum, langkah ini berpotensi memulihkan sebagian aliran perdagangan langsung antara AS dan China. Meski begitu, kedua negara tetap memiliki insentif untuk menjaga gencatan dagang secara luas, terutama terkait kendala di sektor teknologi. Pelaku bisnis juga perlu memperhatikan risiko kebijakan non-tarif yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Inti dari gencatan dagang bukan sekadar angka tarif, melainkan dimensi kendali teknis yang lebih luas. Kedua pihak sepakat menunda pembatasan lebih ketat terhadap semikonduktor dan ekspor bumi tanah jarang sepanjang satu tahun terakhir. Ketidakpastian teknokratis seperti itu menjadi kunci bagi stabilitas rantai pasokan global.
Sebelum putusan, tarif nominal AS terhadap China berada di kisaran 30 persen pada masa pemerintahan Trump kedua, dengan rincian 20 persen reciprocity dan bagian fentanyl yang turun menjadi sekitar 10 persen. Ketentuan ini mencerminkan bagaimana hambatan perdagangan membentuk biaya bagi perusahaan impor-ekspor. Analisis ini menilai bahwa perubahan kebijakan tarif bisa mengguncang alur produksi lintas negara.
Jika tarif 15 persen ditegakkan melalui Section 122, China menghadapi hambatan nominal yang lebih rendah, asalkan pengecualian untuk elektronik konsumen tetap berlaku. Hal ini dapat memfasilitasi pemulihan pesanan langsung dan mengurangi biaya bagi perusahaan yang tergantung pada importasi barang-barang elektronik. Namun, dampak aktual juga akan bergantung pada implementasi kebijakan dan respons beragam sektor.
Data menunjukkan ekspor China ke AS turun sekitar 20% pada 2025 dibandingkan 2024, menunjukkan dampak siklus perdagangan serta kebijakan sebelumnya. Menurut analisis Cetro Trading Insight, pemulihan aliran dagang bisa terjadi secara bertahap jika kebijakan baru diarahkan untuk mengurangi hambatan perdagangan. Faktor permintaan domestik maupun dinamika pasokan akan memainkan peran penting dalam laju pemulihan.
Di luar angka tarif, fokus kebijakan pada kendala teknologi menjadi pilar utama dalam dinamika perdagangan antara AS dan China, meski perubahan tarif terjadi. Kedua negara menilai pentingnya menjaga akses ke aliran komponen dan perangkat teknis demi menjaga pertumbuhan industri. Kendala seperti semikonduktor dan logam tanah jarang telah lama menjadi faktor penggerak negosiasi.
Nilai non-tarif seperti pembatasan ekspor perangkat teknologi tinggi mengakumulasi dampak kebijakan. Investor perlu memantau perizinan lisensi, pembatasan ekspor, dan kebijakan alokasi sumber daya. Ketika kedua negara menyesuaikan kerangka kerja, volatilitas di pasar global bisa meningkat.
Secara keseluruhan, perubahan ini menambah dinamika risiko dan peluang bagi sektor manufaktur dan teknologi. Investor perlu menilai proyeksi pertumbuhan, implikasi biaya, dan respons kebijakan untuk menilai peluang jangka menengah.