
Para ekonom TD Securities, Oscar Munoz dan Eli Nir, menilai pasar tenaga kerja AS sedang menuju normalisasi. Nonfarm payrolls diperkirakan bertahan di sekitar 80 ribu, tingkat pengangguran berada di 4,3 persen, dan pertumbuhan upah tetap modest. Gambaran ini menandai kelanjutan tren perbaikan tenaga kerja setelah beberapa bulan volatilitas yang cukup ekstrem.
Indikator ISM Services PMI diperkirakan melandai lagi menjadi 53,7, menunjukkan perlambatan aktivitas layanan meski tetap berada di wilayah ekspansif. Kenaikan harga energi memperlihatkan dampak yang lebih jelas pada respons survei. Data ini konsisten dengan dinamika ekonomi ritel dan jasa yang tetap berpegang pada momentum meski ada tekanan biaya.
Dalam konteks kebijakan moneter, para analis menilai bahwa data perekonomian yang resilient memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tetap bersabar dalam menilai dampak kebijakan tersebut. GDP Q1 rebound dipicu pembalikan shutdown pemerintah dan aktivitas inti yang lebih kuat, sementara konsumsi rumah tangga moderat. Investasi tetap tumbuh cepat, didorong oleh kemajuan AI di sektor bisnis.
Data JOLTS menunjukkan penurunan kecil pada perekrutan, menandai perlambatan dinamika pasar kerja setelah periode meningkat. Sentimen konsumen UMich rebound tipis, mengindikasikan perbaikan kepercayaan yang terbatas. Secara lintas data, proyeksi NFP sekitar 80 ribu disertai kontribusi utama dari pekerjaan swasta sekitar 85 ribu dan penurunan 5 ribu di sektor pemerintah.
Industri kesehatan, hiburan dan perhotelan, serta perdagangan, transportasi dan utilitas diproyekkan menopang sebagian besar perbaikan pekerjaan. Perkembangan ini sejalan dengan peningkatan permintaan jasa meskipun tekanan inflasi tetap menjadi pertimbangan bagi pelaku pasar. AHE diperkirakan stagnan, naik 0,2 persen secara bulanan dan 3,7 persen secara tahunan.
Tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di 4,3 persen dengan partisipasi tenaga kerja bergerak datar. Dengan demikian, prospek upah tetap moderat dan pasar tenaga kerja tetap menjadi kunci arah kebijakan moneter. Dalam konteks ini, kebijakan fiskal dan faktor harga energi menjadi variabel tambahan yang perlu dicermati.
Konflik di Iran dan harga energi yang lebih tinggi membentuk bingkai risiko utama bagi ekonomi global. Meskipun gejolak tersebut menambah volatilitas pasar energi, data nasional AS menunjukkan daya tahan yang cukup untuk menahan tekanan inflasi. Katalis ini memberikan konteks bagi investor untuk menilai jalur kebijakan Fed.
GDP kuartal pertama rebound berkat pembalikan shutdown pemerintah dan aktivitas inti yang lebih kuat. Konsumsi rumah tangga terlihat moderat, sementara investasi tetap tumbuh cepat didorong oleh kemajuan AI.
Menurut Cetro Trading Insight, data yang ada memperlihatkan kapasitas ekonomi untuk tetap pada jalur kebijakan yang sabar. Dengan bukti daya tahan, Fed memiliki ruang untuk menilai dampak kebijakan terhadap inflasi tanpa terburu-buru.