AUD/USD berusaha rebound setelah menguji area support jangka pendek di sekitar 0.7030. Pergerakan yang relatif sempit dalam beberapa sesi menciptakan peluang bagi pemburu nilai untuk mendulang keuntungan dari potensi pergerakan berikutnya. Secara umum, sentimen pasar tetap rapuh karena risiko global, namun minat beli pada pasangan ini menandai dinamika teknikal yang perlu diperhatikan.
Data inflasi di Amerika Serikat yang lebih tinggi, seperti PPI, menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve masih akan menjaga kebijakan suku bunga yang restriktif. Kondisi ini membantu menjaga USD tidak menguat berlebihan sambil menambah tekanan pada laju imbal hasil. Di sisi lain, ekspektasi bahwa RBA akan menjaga sikap hawkish menambah dukungan bagi AUD.
Kepastian pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga RBA pada Mei meningkatkan tompel dukungan terhadap AUD. Dukungan juga datang dari rilis CPI Januari yang kuat, yang memperkuat posisi AUD/USD meski faktor geopolitik internasional tetap menjadi pembatas. Secara keseluruhan, kombinasi faktor fundamental mendukung pandangan bahwa AUD/USD bisa bergerak secara volatil dengan upside terbatas.
Geopolitik tetap menjadi faktor penggerak risiko utama. Serangan terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran meningkatkan ketidakpastian dan dapat membatasi minat pada aset berisiko, termasuk AUD yang sensitif terhadap aliran modal risiko.
Meski ada dorongan menuju aset berisiko, pergerakan safe-haven USD tetap relevan saat data ekonomi dirilis. Para pelaku pasar menunggu rilis ISM Manufacturing PMI, ADP, ISM Services PMI, serta Nonfarm Payrolls untuk menentukan arah pasangan utama.
Data utama yang akan datang—GDP Australia, laporan ADP, ISM Services PMI, dan NFP Amerika—berpotensi mengubah arah pergerakan AUD/USD. Pernyataan dari gubernur RBA tentang kebijakan moneter juga bisa memperkaya narasi fundamental maupun teknikal yang membentuk proyeksi jangka pendek pasangan ini.