
Faktanya momen minggu ini ditentukan oleh pernyataan hawkish dari Federal Open Market Committee (FOMC) yang mendorong dolar AS menguat. AUD/USD tergelincir ke sekitar level 0.7000 karena kekuatan dolar yang lebih besar daripada faktor domestik. Menurut Cetro Trading Insight, pergerakan ini mencerminkan dinamika risiko global yang dibentuk oleh kebijakan moneter AS dan ketidakpastian di pasar politik.
Meski AUD sering dipandang sebagai proxy risiko, realitasnya lebih kompleks karena Australia menghadapi tekanan inflasi domestik sendiri. Bank sentral RBA menahan suku bunga pada 4.35% bulan ini, namun nada kebijakan tetap hawkish. Inflasi berada di jalur yang lebih tinggi dari target, didorong oleh kenaikan harga minyak dan komoditas global, serta transmisinya ke barang dan jasa.
Karena dolar menguasai pembahasan, AUD tetap bergantung pada pergerakan luar negeri seperti permintaan global terhadap China dan kondisi pasar komoditas, terutama logam tambang. Pasar mengamati bagaimana harga iron ore dan sikap kebijakan AS akan mempengaruhi nilai tukar Aussie. Dalam konteks ini, carry trade tidak bisa menarik jika dukungan fiskal dan permintaan global tidak mendukung perbaikan fundamentasinya.
RBA mempertahankan suku bunga 4.35% namun menyiratkan sikap yang jauh dari dovish. Para policymaker menekankan inflasi tetap tinggi dan membengkak secara signifikan, didorong oleh faktor-faktor seperti harga minyak dan komoditas yang terdampak konflik regional. Proyeksi bank sentral menunjukkan inflasi tetap di atas target hingga 2027, menandai pijakan kebijakan yang lebih tegas dibanding negara pesaing.
Beberapa komite tetap melihat ruang untuk pengetatan lebih lanjut sebelum siklus pelonggaran mulai. Hal ini memberikan dukungan bagi AUD jangka menengah meskipun saat ini terhambat oleh dinamika dolar AS. Perbedaan kebijakan intra-negara membuat carry trade Australia sulit untuk menarik minat investor saat ini.
Secara kontekstual, pergeseran kredit nasional dan ekspektasi inflasi menguatkan argumen bahwa AUD akan tetap di bawah tekanan jika dolar AS tetap kuat. Namun jika kondisi domestik belusuk volatilitas mereda dan inflasi mulai melunak, mata uang Australia berpotensi membentuk dua arah yang lebih stabil meski secara umum tetap berhati-hati.
Minggu depan, fokus utama adalah rilis data CPI Australia untuk bulan Mei, yang diproyeksikan menunjukkan laju inflasi tahunan sekitar 4,3% dan kapita inti (trimmed mean) yang menjadi fokus RBAs. Data yang lebih panas dari ekspektasi bisa memperbarui ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberi support pada AUD meski di tengah dolar yang kuat.
Selain itu, laporan ketenagakerjaan Mei dirilis hari Kamis, menyusul kejutan penurunan pekerjaan bulan sebelumnya. Rebound di pekerjaan dapat memperkuat kasus hawkish terhadap kebijakan moneter, tetapi timing-nya berpotensi bertabrakan dengan rilis GDP Q1 dan PCE AS yang juga dirilis pada hari yang sama. Hal ini menambah risiko dua arah bagi pasangan AUD/USD.
Level teknikal penting yang diperhatikan meliputi resistansi di sekitar 0,7050 dan 0,7100, serta dukungan di 0,7000 dan 0,6950. Penutupan di atas 0,7100 akan menandai tekanan down-leg telah berakhir, sedangkan jika harga menembus di bawah 0,7000, jurang menuju 0,6950–0,6900 bisa terbuka. Memasuki minggu baru, arah pasangan bergantung pada bagaimana rilis CPI Australia memproyeksikan inflasi domestik dibandingkan dengan data AS.