
Dolar AS menguat karena permintaan aset aman menimbang risiko geopolitik di Timur Tengah. Para pelaku pasar menilai potensi gangguan pasokan minyak dan volatilitas harga komoditas global. Akibatnya mata uang berisiko seperti AUD cenderung melemah terhadap USD.
Iran menegaskan respons keras jika AS masuk ke Selat Hormuz, meningkatkan ketegangan dan risiko gangguan perdagangan. Kebijakan baru dan peringatan militer memperluas risiko bagi arus kapal dan pengiriman minyak dunia.
AUD/USD telah kehilangan sebagian dari puncaknya di 0.7227, dan diperdagangkan sekitar 0.7200 pada sesi Eropa. Kondisi ini juga didorong oleh dinamika pasar yang berfokus pada eskalasi geopolitik dan arah harga minyak.
Pasar memperhatikan potensi kenaikan suku bunga bank sentral Australia pada pertemuan bulan ini. Harapan kenaikan kurs tengah ini dipicu oleh tekanan inflasi domestik dan sinyal kebijakan yang lebih ketat.
ASX May 2026 cash rate futures menunjukkan probabilitas sekitar 74 persen untuk kenaikan menjadi 4.35 persen. Angka tersebut menegaskan jalur kebijakan yang lebih restriktif dan memberikan support bagi AUD bila ekspektasi terwujud.
Menurut Cetro Trading Insight, ekspektasi kenaikan suku bunga RBA dapat menjadi katalis utama bagi AUD meskipun dolar AS tetap menguat di jangka pendek. Katalis dari inflasi domestik menjadi fokus utama bagi pergerakan pasangan mata uang ini.
Inflasi Australia dilaporkan meningkat 4.6 persen secara yoy pada Maret, melampaui target bank sentral meskipun sedikit di atas proyeksi. Angka ini menambah tekanan bagi kebijakan moneter dan memperhatikan dinamika permintaan domestik.
TD MI Inflation Gauge naik 0.6 persen MoM pada April, menandai kelanjutan momentum kenaikan harga. Data ini menambah narasi bahwa tekanan inflasi bisa bertahan dalam beberapa bulan ke depan.
ANZ Job Advertisements turun 0.8 persen MoM, melanjutkan tren kontraksi di pasar tenaga kerja. Sinyal tersebut mempengaruhi ekspektasi penguatan ekonomi dan dapat mempengaruhi aliran modal ke AUD.