Bayangkan sebuah perubahan besar di panggung komoditas global: Indonesia secara resmi menyalakan lonceng kebijakan biodiesel B50 berbasis minyak sawit. Langkah ini tidak sekadar mengubah arah kebijakan energi, melainkan menambah dorongan permintaan CPO secara nyata dalam beberapa tahun ke depan. Cetro Trading Insight melihat ini sebagai sinyal penting yang bisa mengangkat harga dan prospek industri sawit domestik.
Analis CIMB Securities Ivy Ng Lee Fang menjelaskan bahwa kebijakan campuran biodiesel 50 persen berbasis sawit berpotensi menambah permintaan hingga 4 juta ton per tahun dan memperketat pasokan ekspor meski detail implementasinya belum jelas.
Di sisi lain, proyeksi CIMB menaikkan harga rata-rata CPO menjadi 4.400 RM/tahun 2026 dan 4.500 RM/tahun 2027, menunjukkan optimisme analis terhadap kontribusi kebijakan ini terhadap harga komoditas meskipun faktor valuta ikut bermain.
Di pasar kontrak minyak sawit Malaysia, harga sempat melemah pada perdagangan Selasa setelah beberapa hari kenaikan, mencerminkan dinamika persaingan dengan minyak nabati pesaing. Meski demikian, kontrak pengiriman Juni berhasil mencatat tren kenaikan bulanan pada bulan-bulan sebelumnya.
Pergerakan harga CPO juga dipengaruhi pergerakan minyak nabati lain seperti kedelai, di mana koreksi di Dalian dan perubahan harga global memberi sinyal arus utama yang mengikuti arah pasar minyak nabati secara umum.
Faktor mata uang turut mengangkat daya tarik CPO bagi pembeli internasional, karena pelemahan ringgit membuat harga CPO relatif lebih murah bagi pasar luar negeri. Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen melanjutkan program biodiesel B50, mempertegas fokus hilirisasi energi sawit nasional. Secara teknikal, meski ada volatilitas, potensi rebound harga tetap ada jika sentimen fundamental tetap positif.