
Kinerja BEI sepanjang 2025 menandai tonggak historis bagi pasar modal Indonesia. BEI melaporkan laba bersih sebesar Rp1,073 triliun, lonjak 59,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan aktivitas transaksi investor dan arus likuiditas yang lebih kuat di bursa.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa pertumbuhan laba bersih sejalan dengan peningkatan jumlah investor dan volume transaksi. Pendapatan perseroan naik 29,8% menjadi Rp3,662 triliun, didorong mayoritas dari aktivitas transaksi di bursa. Beliau menegaskan bahwa laba tertinggi dalam sejarah perseroan menjadi cerminan kepercayaan pelaku pasar.
Selain itu, kinerja non-transaksi juga menunjukkan peningkatan, tumbuh 14,6% berkat peningkatan pendapatan teknologi informasi sebesar 18,8%. Sementara pendapatan lainnya naik 17% seiring kenaikan pendapatan investasi dan laba entitas asosiasi. Beban operasional meningkat 17,1% menjadi Rp2,36 triliun, dipicu biaya administrasi, CKPN atas piutang entitas anak, serta peningkatan biaya perbaikan dan pemeliharaan sistem perdagangan.
Pendapatan perseroan meningkat 29,8% menjadi Rp3,662 triliun, dengan porsi sekitar 76,8% berasal dari transaksi di bursa. Kenaikan ini mencerminkan aktivitas perdagangan yang lebih kuat meski turbulensi eksternal sempat terjadi. BEI mencatat bahwa sebagian besar pendapatan berasal dari layanan transaksi, menandakan model bisnis yang sangat terkait dengan likuiditas pasar.
Selain pendapatan utama, pendapatan non-transaksi juga tumbuh 14,6% karena peningkatan penerapan teknologi informasi sebesar 18,8%. Hal ini didorong oleh investasi pada infrastruktur TI untuk mempercepat proses perdagangan dan layanan bagi investor. Sementara pendapatan investasi dan laba entitas asosiasi juga membaik, masing-masing naik 27,2% dan 5,8%.
Di sisi lain, beban operasional meningkat 17,1% menjadi Rp2,36 triliun akibat peningkatan biaya administrasi, pembentukan CKPN, serta peningkatan biaya perbaikan dan pemeliharaan sistem perdagangan. BEI menegaskan bahwa investasi pada infrastruktur diperlukan untuk menjaga keamanan serta keandalan layanan. Hal ini sejalan dengan strategi untuk menjaga pertumbuhan kinerja di masa mendatang.
Pasar saham tumbuh dinamis sepanjang 2025 meski dihantam gejolak global seperti perang dagang, pelemahan nilai tukar, dan ketidakpastian geopolitik. IHSG sempat terguncang namun mampu mencatat 24 rekor tertinggi sepanjang tahun, menembus level 8.000 pada September 2025 dan mencapai 8.711 sebagai titik tertinggi sepanjang masa. Penutupan IHSG 2025 berada di kisaran 8.045, menunjukkan pemulihan yang signifikan.
Regulator dan pemerintah menggelontorkan langkah stabilisasi untuk memulihkan kepercayaan investor. OJK mempercepat kebijakan stabilisasi pasar, sementara pemerintah menyiapkan stimulus likuiditas sekitar Rp200 triliun. Langkah-langkah ini membantu mengurangi volatilitas dan mendorong pemulihan arus modal masuk ke pasar domestik.
Di sisi sektor, penghimpunan dana melalui rights issue dan pencatatan saham baru mencapai Rp18,1 triliun, nilai transaksi produk non-saham mencapai Rp7,6 triliun, volume SPPA mencapai Rp1.375 triliun, dan perdagangan Bursa Karbon mencapai Rp36,37 miliar. Implikasi jangka menengahnya adalah peningkatan likuiditas pasar dan peluang bagi investor untuk berpartisipasi melalui berbagai instrumen, termasuk aset non-saham, sambil menjaga manajemen risiko yang prudent.