
Langkah perpanjangan program buyback oleh PT BFI Finance Tbk (BFIN) di tengah guncangan volatilitas pasar menjadi sinyal kuat komitmen manajemen menjaga stabilitas harga saham di BEI. Dalam konteks pasar yang bergerak liar, tindakan ini juga mengirimkan pesan bahwa perusahaan siap bertindak cepat jika diperlukan. Kebijakan ini mencerminkan pendekatan proaktif perusahaan dalam mengelola struktur modal sambil menjaga kepercayaan investor. Cetro Trading Insight menilai langkah ini berpotensi menahan penurunan harga saat likuiditas menipis.
Presiden Direktur BFI Finance, Sutadi, menjelaskan bahwa perseroan menyiapkan dana maksimal Rp100 miliar untuk membeli saham BFIN di pasar reguler, termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lain terkait buyback. Pelaksanaan buyback ini tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha perseroan. Langkah ini dilakukan di luar skema RUPS, mengacu pada POJK 13/20023 dan Surat Edaran OJK No S-102/D.04/2025 terkait kondisi pasar modal yang tengah dalam volatilitas tinggi hingga 17 Maret 2026.
Menurut laporan, BFI Finance telah merealisasikan buyback sebesar Rp147,3 miliar dengan total 190 juta saham. Harga rata-rata pembelian sekitar Rp775 per saham, sedikit di atas level harga di pasar reguler sekitar Rp740. Hingga saat ini, sisa dana buyback yang tersedia Rp352 miliar dari total anggaran Rp500 miliar; kemudian dana buyback saat ini dipangkas menjadi Rp100 miliar. Jumlah saham treasuri perseroan mencapai 1,26 persen dari total saham yang telah dikeluarkan.
Secara fundamental, buyback cenderung memberi dukungan pada nilai pemegang saham dan mengurangi jumlah saham beredar, meskipun perusahaan menegaskan dampak ke kinerja tidak material. Kebijakan ini juga bisa membantu menjaga likuiditas saham jika minat investor tetap cukup, sehingga potensi volatilitas bisa agak terkendali. Dari sisi investor, langkah ini bisa dianggap sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap valuasi perusahaan.
Pengumuman buyback tidak melalui RUPS dan mengikuti ketentuan POJK yang relevan, menunjukkan kepatuhan terhadap regulasi dalam kondisi pasar yang bergejolak. Otoritas mengizinkan pelaksanaan pembelian kembali tanpa rapat umum jika volatilitas pasar tinggi, hal yang terjadi hingga 17 Maret 2026. Meski begitu, implikasi jangka panjang terhadap struktur modal akan bergantung pada bagaimana harga saham bereaksi dan seberapa efektif program ini bisa mengurangi tekanan terhadap harga.
Analisis dari Cetro Trading Insight menyimpulkan bahwa sinyal ini lebih bersifat fundamental daripada rekomendasi perdagangan jangka pendek. Investor disarankan memantau pergerakan harga dan volume untuk memahami respons pasar terhadap langkah buyback. Karena tidak ada level entry atau exit eksplisit yang diusulkan, pedagang sebaiknya menunggu konfirmasi lanjutan sebelum mengambil posisi di BFIN.