Bank Indonesia resmi bergabung dalam Nexus, inisiatif pembayaran lintas negara yang dipelopori Bank for International Settlements. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya menghadirkan transaksi internasional lebih cepat, murah, dan andal bagi pelaku usaha serta warga Indonesia. Dengan keterlibatan BI, Indonesia berpotensi memperkuat aliran remitansi dan perdagangan, sambil menjaga kedaulatan sistem pembayaran domestik. Cetro Trading Insight memandang langkah ini sebagai sinyal positif bagi likuiditas regional dan stabilitas kebijakan moneter jangka menengah.
Proyek Nexus dirancang untuk menghubungkan sistem pembayaran instan domestik (IPS) dengan jaringan pembayaran global. Tujuannya mempercepat kliring, mengurangi biaya, dan mengatasi friksi bagi pelaku usaha lintas negara. Dengan demikian, transaksi ekspor-impor dan remitansi bisa berjalan lebih mulus.
Keterlibatan BI bersama Bank Negara Malaysia (BNM), Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), Monetary Authority of Singapore (MAS), Bank of Thailand (BOT), dan Reserve Bank of India (RBI) menunjukkan koordinasi kebijakan tingkat regional. Kolaborasi semacam ini memperkuat arsitektur pembayaran lintas batas yang lebih resilien terhadap guncangan ekonomi. Selain itu, sinergi antarpemerintah meningkatkan peluang akses keuangan bagi rumah tangga dan UMKM.
Sejak fase implementasi pada 2025 melalui pembentukan Nexus Global Payments (NGP), rencana menghubungkan BI FAST dengan Nexus semakin mempercepat settlement antar negara. BI FAST diharapkan menjadi jembatan antara sistem pembayaran domestik dan jaringan global, sehingga efisiensi biaya dan waktu transaksi meningkat. Langkah ini sejalan dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030 dan kerangka Regional Payment Connectivity yang dipromosikan ASEAN pada 2022.
Fokus Nexus adalah menjaga agar proses kliring dan penyelesaian transaksi domestik tetap berada di dalam negeri. Dengan demikian, kendali atas arus uang nasional tidak tergeser, sekaligus meminimalkan risiko terkait ketergantungan pada infrastruktur asing. Ini penting untuk stabilitas sistem keuangan nasional.
Implementasi ini sejalan dengan BSPI 2030 dan kerangka ASEAN 2022 tentang konektivitas pembayaran regional. Pemerintah menegaskan bahwa proyek ini mendukung reformasi pembayaran lintas negara tanpa mengorbankan keamanan data. Di sisi publik, peningkatan akses ke layanan pembayaran instan meningkatkan inklusi keuangan bagi masyarakat luas. Analisis dari Cetro Trading Insight menyoroti dampak positif pada inklusi keuangan dan kepastian regulasi.
Kolaborasi lintas negara berpotensi menurunkan biaya transaksi bagi pelaku usaha, memperkuat daya saing eksportir, dan mempercepat arus remitansi pekerja migran. Selain itu, konektivitas lebih baik bisa mendongkrak investasi asing dan kolaborasi ekonomi regional. Namun, regulator tetap memantau risiko operasional dan keamanan siber dalam implementasinya.
Sinergi BI dan Nexus Global Payments diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan inklusi keuangan dan kelancaran perdagangan lintas negara. Efisiensi pembayaran dapat menurunkan biaya logistik dan mempercepat arus modal, sehingga iklim investasi menjadi lebih menarik.
Dari sisi kebijakan, langkah ini sejalan dengan reformasi pembayaran lintas negara yang digulirkan oleh G20, sehingga Indonesia berpotensi memainkan peran lebih kuat dalam arsitektur keuangan regional. Dukungan publik dan koordinasi antar kementerian menjadi kunci kelancaran penerapan inisiatif ini.
Bagi pelaku pasar, dinamika ini bisa menjadi penentu arus modal jangka menengah. Investor menilai stabilitas kebijakan dan peluang ekspansi infrastruktur pembayaran. Pihak regulator akan terus mengawasi risiko operasional serta keamanan siber untuk menjaga kepercayaan publik.