Bank Indonesia mengumumkan kelanjutan pelonggaran kebijakan moneter dengan dorongan kuat pada likuiditas sektor perbankan. Langkah ini menegaskan bahwa kebijakan moneter akan terus berjalan dalam arah yang mendukung pertumbuhan kredit dan perekonomian secara berkelanjutan. Dalam konteks global, dinamika ini memberi sinyal stabilitas dan peluang bagi pelaku pasar untuk melihat kredit sebagai mesin penggerak utama.
Gubernur Perry Warjiyo merinci bahwa deposito satu bulan turun 62 basis poin menjadi 4,19 persen per Maret 2026, sementara kredit turun 44 basis poin menjadi 8,76 persen pada periode yang sama. Penurunan ini menunjukkan relaksasi biaya dana yang diiringi penurunan biaya pinjaman bagi pelaku bisnis dan rumah tangga. Perubahan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan memacu penyaluran kredit secara lebih luas.
BI menegaskan perlunya langkah berkelanjutan untuk menurunkan suku bunga dana dan kredit melalui koordinasi dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Upaya ini termasuk pengurangan special rate bagi deposan besar yang selama ini mencapai sekitar 26,3% dari DPK, demi memperbaiki struktur biaya sumber pembiayaan. Di sisi penawaran, kapasitas pembiayaan tetap memadai berkat rasio AL/DPK 27,85 persen dan pertumbuhan DPK 13,55 persen yoy pada Maret 2026.
Permintaan pembiayaan bank masih memiliki ruang untuk tumbuh, sebagaimana pemanfaatan fasilitas pinjaman undisbursed kredit belum dimanfaatkan sepenuhnya. Nilai undisbursed loan mencapai Rp2.527,46 triliun, yaitu sekitar 22,59 persen dari plafon kredit tersedia, menunjukkan peluang untuk ekspansi pembiayaan di masa mendatang. Kondisi likuiditas yang longgar memberi bank ruang untuk menyalurkan kredit lebih agresif tanpa mengorbankan kualitas portofolio.
Secara teknis, pasar memantau bahwa lending requirements tetap longgar meski segmen konsumsi dan UMKM mengalami risiko kredit yang lebih tinggi. Minat penyaluran kredit masih terlihat baik, didukung oleh basis deposan dan dana pihak ketiga yang terus tumbuh. Dalam laporan ini, kami menilai dinamika kredit cenderung positif jika kebijakan dapat menjaga keseimbangan antara risiko dan ketersediaan dana.
Di bawah payung Cetro Trading Insight, BI menegaskan bahwa ke depan kapasitas pendanaan perbankan akan diperkuat lewat instrumen non-DPK untuk mendukung pembiayaan. Koordinasi dengan pemerintah dan KSSK akan terus diperkuat guna memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit secara berkelanjutan. Analisis ini menyoroti bahwa kebijakan yang konsisten dan transparan akan memberi sinyal positif bagi pelaku pasar dan investor jangka menengah.