
Cetro Trading Insight menilai Bank Indonesia akan menahan BI-Rate pada 5,50% pada RDG Juni 2026, sebuah keputusan yang dinilai membawa kepastian bagi pelaku pasar. Analisis LPEM FEB UI menunjukkan bahwa langkah ini tetap menjaga keseimbangan antara tekad menjaga harga stabil dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks ini, proyeksi ini dipublikasikan untuk membantu investor memahami bagaimana dinamika moneter dapat memengaruhi arah pasar ke depan.
Kenaikan suku bunga sebelumnya telah mencapai akumulasi 75 basis poin, terdiri dari 50 bps pada RDG Mei 2026 dan tambahan 25 bps melalui rapat luar jadwal 9 Juni 2026. Perjalanan pengetatan kebijakan berlangsung bertahap, menunjukkan pendekatan yang cukup agresif meski terpapar tekanan pasar global. Hal ini menjadi dasar bagi analisis mengenai ruang gerak kebijakan di bulan-bulan mendatang.
Teuku Riefky menegaskan bahwa volatilitas rupiah serta tekanan eksternal tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan. Ia menyatakan bahwa jika rupiah terpukul lebih lanjut, ruang untuk pemangkasan kebijakan kemungkinan akan terbatas. Meskipun inflasi domestik masih dalam koridor sasaran BI, risiko jangka pendek akibat harga pangan dan biaya energi tetap menjadi fokus pengawasan kebijakan.
Rupiah masih dibayangi oleh tekanan eksternal meski laju inflasi domestik berada di jalur sasaran BI. Kondisi ini memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan stabil dalam beberapa bulan ke depan. Namun, volatilitas global dan perubahan aliran modal tetap menjadi faktor yang perlu diawasi secara seksama.
Riefky menekankan bahwa efektivitas pengetatan kebijakan akan terbatas jika hambatan dari sisi penawaran tetap besar. Kenaikan harga pangan, biaya energi, dan gangguan pasokan dapat membebani upaya menjaga inflasi pada target. Oleh karena itu, sinergi dengan pemerintah dan kebijakan fiskal menjadi kunci.
Dalam konteks domestik, tekanan dari harga Pertamax dan Pertamax Green 95 serta dinamika pasokan pangan memperlihatkan bahwa inflasi jangka pendek masih bisa meningkat meski inti inflasi moderat. Bank Indonesia mencatat bahwa risiko tersebut perlu dimitigasi melalui kebijakan yang hati-hati serta koordinasi lintas lembaga. Secara keseluruhan, proyeksi inflasi untuk semester ini menunjukkan stabilitas dalam kerangka target, meskipun tantangan masih ada.
Di panggung global, sentimen fiskal dan perdagangan membaik setelah kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman energi. Momentum ini diartikan banyak analis sebagai langkah positif terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Cetro Trading Insight menilai pertemuan ini menambah kepastian bagi pasar energi meskipun volatilitas masih terlihat.
Meski grafik harga minyak mulai melandai dari level tertinggi, efek jeda dari biaya energi sebelumnya tetap membantu menahan tekanan inflasi secara global dalam jangka pendek. Pasar menilai bahwa langkah-langkah restrukturisasi energi dan dinamika permintaan akan membentuk arah harga kedepan. Investor juga perlu mencermati faktor supply side yang dapat mengubah prospek ini secara tiba-tiba.
Secara kebijakan moneter global, beberapa analis memperkirakan tidak ada pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang 2026 karena ruang kebijakan yang terbatas. Riefky menekankan bahwa kebijakan AS ini akan mempengaruhi arus modal dan persepsi risiko di negara berkembang. Dengan demikian, investor perlu menilai risiko dan peluang di perjalanan kebijakan moneter internasional, termasuk dampaknya pada rupiah dan aset berisiko.