Menurut Lloyd Chan dari MUFG, Bank Indonesia mempertahankan proyeksi pertumbuhan 2026 di kisaran 4.9%–5.7% dan tetap menargetkan inflasi pada 1.5%–3.5%. Hal ini menegaskan komitmen BI terhadap arah kebijakan meski dinamika inflasi tetap menjadi risiko. Para analis mencatat bahwa kebijakan ini menjaga stabilitas ekonomi secara menengah dan menyiapkan kerangka bagi pembentukan ekspektasi yang kredibel. Fokus utama adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas harga.
Namun, upside risiko inflasi bisa membebani Rupiah jika policymaker membiarkan ekonomi berjalan lebih panas dari perkiraan. Ketika output gap menyempit, tekanan harga bisa meningkat dan memperberat tekanan pada kurs domestik. Hal ini berpotensi merubah opini pasar terkait jalur kebijakan ke depan. Analisis ini menekankan pentingnya perumusan kebijakan yang hati-hati.
Pada segi pasar, dukungan pelonggaran bertahap menjadi bagian dari dinamika kebijakan. Skenario ini menjaga ekspektasi pelonggaran secara bertahap sambil mengelola dampak terhadap inflasi. Investor juga menilai bahwa dinamika fiskal dan eksternal perlu dipantau agar stabilitas kurs terjaga. Penilaian pasar obligasi dipengaruhi oleh perubahan arus modal dan likuiditas nasional.
Analisis model menunjukkan bahwa obligasi pemerintah 10 tahun tampak overvalued relatif terhadap fondasi makro. Aspek teknikal juga mengisyaratkan potensi kenaikan imbal hasil lebih lanjut, menciptakan tekanan bagi harga obligasi jangka panjang. Kondisi ini menambah sinyal kehati-hatian bagi investor yang memegang SRBI atau serangkaian instrumen utang pemerintah. Fokus risiko pada ketidakcocokan antara valuasi pasar dan progres data fundamental.
Selain itu, dinamika lelang menguatkan narasi keras terhadap imbal hasil. Keterangan pasar menunjukkan peningkatan yield di SRBI dan tekanan pada 10 tahun. Poin pentingnya adalah bahwa perbaikan teknikal belum mengimbangi sinyal valuasi yang terasa pada harga obligasi, sehingga risiko koreksi harga tetap ada. Analisis ini menyoroti bagaimana pasar menilai harga saat ini.
Di sisi lain, aliran modal juga menjadi komponen penting. Ada neto peningkatan jumlah SRBI yang beredar sejak November 2025, disertai kenaikan yield SRBI sekitar 11–14 basis poin sejak September. Hal ini menunjukkan adanya dorongan asumsi risiko yang lebih tinggi, tetapi arus masuk non-residen sejak Desember dapat membatasi tekanan secara keseluruhan. Monitor arus modal internasional tetap diperlukan.
Riset menunjukkan bahwa arus modal internasional mulai menunjukkan perubahan arah. Peningkatan outstanding SRBI dan lonjakan imbal hasil menambah tantangan bagi Rupiah dalam jangka menengah. Investor perlu memperhatikan dinamika likuiditas serta perubahan kebijakan fiskal yang bisa memicu respons pasar yang tidak terduga. Risiko utama adalah bagaimana kebijakan mengejar keseimbangan antara pertumbuhan dan inflasi.
Meski demikian, beberapa faktor fundamental dan teknikal memberi gambaran yang kompleks. Beberapa arus masuk non-residen bisa memberi bantalan terhadap arus keluar dari ekuitas dan obligasi pemerintah, meski dampaknya terbatas. Investor domestik maupun asing tetap menilai peluang relatif antara imbal hasil dan risiko mata uang saat kenvangan global berubah. Strategi portofolio perlu disesuaikan dengan volatilitas risiko.
Artikel ini disusun dengan bantuan alat kecerdasan buatan dan ditinjau editor. Media kami, Cetro Trading Insight, berkomitmen menyajikan analisa yang akurat dan relevan untuk pembaca pasar Indonesia. Kami berupaya menjaga akurasi data dan transparansi metodologi.