BoC Menunda Pemangkasan hingga Q3 2026: Dampak Harga Energi dan Permintaan Domestik

BoC Menunda Pemangkasan hingga Q3 2026: Dampak Harga Energi dan Permintaan Domestik

trading sekarang

Para ekonom Standard Chartered, Dan Pan dan Steve Englander, menilai Bank of Canada akan menunda langkah pemangkasan suku bunga hingga kuartal ketiga 2026. Mereka tetap memproyeksikan tingkat kebijakan di 2 persen pada akhir 2026. Laporan ini disampaikan oleh Cetro Trading Insight.

Faktor utama penundaan adalah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah yang meningkatkan risiko inflasi. Meski demikian, pandangan bahwa permintaan domestik mulai pulih menuju akhir 2025 menjadi dukungan bagi argumen untuk menahan kebijakan saat ini.

Pasar menyerap ekspektasi sekitar 30 basis poin kenaikan pada 2026 meski para ekonom menilai adanya ruang untuk pelonggaran jika kenaikan harga energi terkendali.

Lonjakan harga minyak akibat konflik regional menambah risiko inflasi di jangka pendek dan membatasi kecepatan pelonggaran kebijakan. Bank of Canada dihadapkan pada tantangan menjaga inflasi tetap terkendali sambil memelihara pertumbuhan.

Perbaikan permintaan domestik mendekati ujung 2025 memberikan konteks bagi kebijakan bias menahan suku bunga. Dengan permintaan konsumen yang membaik, BoC memiliki ruang untuk menilai langkah berikutnya tanpa mengorbankan stabilitas harga.

Walau pasar memperkirakan kenaikan 30 basis poin pada 2026, jika lonjakan energi bisa dijinakkan, ruang untuk pelonggaran tetap ada. Faktor-faktor fundamental tetap menjadi fokus investor saat menilai prospek dolar Kanada dan tingkat kebijakan.

Ketidakpastian terkait hubungan perdagangan bilateral tetap tinggi, terutama terkait negosiasi USMCA yang bisa berlanjut. Arah kebijakan perdagangan global akan mempengaruhi keputusan bisnis di masa mendatang dan iklim investasi.

Upaya Kanada untuk menata ulang hubungan perdagangan di luar mitra tradisional diperkirakan berlanjut, meski biaya restrukturisasi bisa menekan aktivitas ekonomi di beberapa sektor. Pasar juga memperhatikan risiko eskalasi yang berdampak pada pola perdagangan dan biaya produksi.

Kebijakan moneter cenderung berada pada jalurnya sepanjang tahun berjalan asalkan risiko inflasi terkendali. Namun dinamika harga energi dan perdagangan tetap menjadi faktor penentu yang bisa mengubah kecenderungan kebijakan jika ketidakpastian meningkat.

broker terbaik indonesia