Tim riset Eropa Nomura menilai bahwa keputusan Bank of England pada pertemuan Maret masih berada dalam wilayah close call. Mereka mempertahankan proyeksi pemotongan 25 basis poin pada Maret dan satu lagi pada Juni, meskipun aliran data masuk dan evolusi risiko di Timur Tengah membuat jalannya kebijakan menjadi sangat krusial. Analisis ini menekankan bahwa arah kebijakan sangat bergantung pada data ekonomi yang akan datang serta dinamika harga energi di pasar global.
Penentu utama adalah bagaimana potensi dampak inflasi dari harga minyak yang lebih tinggi mempengaruhi keputusan pemotongan. Jika minyak tetap meningkat, tekanan terhadap biaya hidup bisa membebani kebijakan yang lebih longgar meski ada dorongan untuk memotong. Durasi krisis geopolitik, kelancaran pengiriman melalui Selat Hormuz, serta dampak terhadap infrastruktur minyak GCC akan menentukan sejauh mana energi membentuk inflasi inti.
Data Februari yang lebih kuat—termasuk pertumbuhan upah reguler, inflasi jasa yang melekat, peningkatan penjualan ritel, dan PMI yang lebih baik dari konsensus—telah membuat beberapa analis mempertanyakan apakah pasar terlalu percaya diri tentang pemotongan pada pertemuan Maret. Data yang rilis antara sekarang dan keputusan BoE pada 19 Maret akan menjadi kunci untuk menilai arah kebijakan. Jika bukti menunjukkan disinflasi pada upah dan jasa, kebijakan pemotongan bisa tetap menjadi opsi utama; namun risiko tidak ada perubahan meningkat jika aksi militer di Timur Tengah dan dampak pada pasar energi berlanjut.
Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi menambah tekanan inflasi dan mengubah ekspektasi pasar terhadap pemotongan suku bunga. Meskipun demikian, proyeksi baseline Nomura tetap menyertakan pemotongan 25 basis poin di Maret dan satu lagi di Juni, sehingga fokus utama adalah bagaimana pergerakan minyak akan mempengaruhi keputusan BoE. Perkembangan pasar energi akan sangat bergantung pada evolusi krisis regional dalam beberapa minggu ke depan.
Ketegangan geopolitik meningkatkan volatilitas pasar energi dan menambah risiko bagi pertumbuhan ekonomi Inggris. Selain itu, kelancaran pasokan melalui jalur penting seperti Selat Hormuz menjadi variabel kunci dalam perhitungan inflasi dan prospek kebijakan. Karena itu, dinamika harga minyak menjadi faktor penentu bagi keputusan kebijakan di pertemuan mendatang.
Data ekonomi yang akan dirilis terus menyisakan ruang untuk penyesuaian kebijakan. Pemantauan panel Decision Maker dan indikator harga energi akan menggiring ekspektasi investor; laporan inflasi yang menunjukkan tanda disinflasi akan memperkuat argumen untuk pemotongan. Namun jika risiko geopolitik berlarut, BoE bisa mempertahankan kehati-hatian meski data mendukung pemotongan.
Harga pasar terkait pemotongan Maret telah berubah nyaris dari lebih dari 21 basis poin menjadi sekitar 13 basis poin saat ini, menunjukkan penilaian yang semakin bercabang. Perubahan tersebut mencerminkan ketidakpastian seputar arah minyak dan bagaimana data ekonomi terkini akan membentuk keputusan pada 19 Maret. Investor juga memantau potensi perubahan ekspektasi inflasi seiring rilis data.
Analisis menunjukkan bahwa keputusan BoE pada Maret adalah sangat dekat dengan keputusan, bergantung pada pergerakan minyak di bulan-bulan mendatang. Sinkronisasi antara data inflasi, pasar tenaga kerja, dan harga energi akan menentukan jalur kebijakan. Pasar valuta asing bisa menjadi sangat volatil jika minyak bergerak tajam ke atas atau ke bawah.
Untuk pembaca dan pelaku pasar, fokus utama tetap pada rilis data ekonomi dan dinamika energi. Pantau pergerakan harga minyak, status jalur pengiriman melalui Hormuz, serta angka inflasi yang dirilis dalam panel DMP. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu memahami risiko dan peluang pada pasangan GBPUSD.