Menurut Cetro Trading Insight, minggu lalu di Inggris relatif sunyi bagi pasar keuangan. Imbal hasil gilt mereda dari sekitar 5% menjadi 4,8%, didorong oleh penyesuaian ekspektasi mengenai jalur kenaikan suku bunga. Pasar mulai menilai hambatan bagi pelebaran kebijakan pengetatan, sejalan dengan pernyataan pendukung yang menahan tekanan kenaikan. Dalam konteks ini, Andrew Bailey menegaskan sikap hati-hati BoE terhadap langkah-langkah pengetatan lebih lanjut, menilai bahwa slip dalam ekonomi mengurangi risiko efek kedua.
Di ranah data, Panel Pembuat Keputusan yang berlangsung 6–20 Maret melaporkan lonjakan 0,5 poin persentase pada ekspektasi CPI satu bulan ke depan menjadi 3,5% secara year-on-year, tertinggi dalam 27 bulan. Ekspektasi upah satu bulan ke depan tampak sedikit menurun sebesar 0,1 poin menjadi 3,5%. Hal ini bisa diartikan bahwa dampak lanjutan dari gangguan energi belum sepenuhnya terakumulasi di harga-harga, meski data bisa saja tertinggal karena dinamika data yang bersifat lagging.
Laporan GDP riil kuartal keempat 2025 menunjukkan pendapatan rumah tangga disposable riil menurun sebesar 0,4% YoY, dibandingkan penurunan 0,3% pada kuartal sebelumnya. Tren ini diperkirakan memburuk dan menekan konsumsi karena tekanan dari peningkatan biaya energi. Mengingat sekitar 40% perjanjian upah tahunan ditetapkan pada April, serta inflasi terkait energi yang akan membebani pertumbuhan upah nominal hingga penyelesaian gaji pada 2027, prospek konsumsi di masa depan tampak lebih menantang.
Survei RICS mengenai pasar properti menyoroti penurunan pada harga penjualan dan sentimen rumah tinggal, karena banyak kesepakatan hipotek ditarik dari pasar. Selain itu, swap tingkat dua- hingga lima-tahun yang menjadi dasar harga hipotek telah melonjak sekitar 50 basis poin ke level tertinggi sejak Desember 2024. Perubahan ini memperburuk biaya pinjaman bagi calon pembeli rumah dan bisa memperlambat aktivitas pasar perumahan.
Sementara itu, BoE Credit Conditions Survey yang diperkirakan dilakukan sebelum gejolak energi memberi gambaran yang relatif positif terhadap kondisi pembiayaan. Data tersebut mencoba menyorot akses kredit bagi rumah tangga dan bisnis, meski konteks energi menjadi volatilitas utama di masa mendatang. Penilaian ini membantu menjelaskan bagaimana lender melihat risiko kredit saat ini meskipun kerentanan terhadap sengatan biaya energi meningkat.
Secara umum, pola kredit dan pasar properti menunjukkan perlunya kehati-hatian bagi konsumen rumah tangga. Tekanan pendapatan riil dan biaya pinjaman menambah kerentanan terhadap belanja rumah tangga, sementara dinamika suku bunga akan terus menjadi faktor penentu kecepatan pemulihan properti. Kebijakan moneter dan faktor eksternal tetap menjadi kunci dalam menilai arah pasar Inggris di beberapa kuartal ke depan.
Kenaikan biaya hidup dan penurunan pendapatan riil menambah tekanan pada pola belanja konsumen. Meski ada dukungan kebijakan jangka pendek, gelombang inflasi terkait energi berpotensi melemahkan daya beli rumah tangga untuk beberapa periode ke depan. Penurunan pendapatan riil juga menambah risiko perlambatan pertumbuhan konsumsi di paruh kedua tahun ini dan sepanjang 2027.
Konsekuensinya, tekanan pada upah nominal dan pembayaran kontrak kerja cenderung menyatu dengan pasar energi yang volatil. Turnover data menunjukkan bahwa sekitar 40% perjanjian upah tahunan ditetapkan pada April, sehingga perubahan harga energi akan membentuk pergerakan pendapatan rumah tangga dalam konteks jangka menengah. Implikasi bagi konsumen adalah perlunya manajemen belanja dan perencanaan keuangan yang lebih prudent.
Dalam kerangka kebijakan, pasar akan menimbang dinamika antara re-pricing suku bunga dan kapasitas ekonomi. Skenario risiko utama meliputi tekanan biaya hidup, ketidakpastian energi, dan respons fiskal yang mempengaruhi perekonomian. Secara umum, para pembuat kebijakan kemungkinan akan fokus pada stabilitas pendapatan rumah tangga, kualitas pinjaman, dan perlunya menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan hingga 2027.