Ekonom senior ING, Min Joo Kang, menilai data PDB Jepang pada kuartal terakhir 2025 menunjukkan momentum yang lebih kuat dari ekspektasi. Pertumbuhan ini sejalan dengan belanja rumah tangga pada Januari yang tetap stabil untuk barang dan jasa. Gabungan faktor ini memperkuat pandangan bahwa proses normalisasi kebijakan BoJ akan berlanjut.
Meskipun terdapat hambatan berupa inventory yang menahan pertumbuhan dua kuartal berturut-turut, prospek restocking diperkirakan membalikkan tren negatifnya. Pemerintah memperkirakan peningkatan belanja pada kuartal berjalan, serta dukungan dari subsidi energi dan upah yang kuat akan memperkuat konsumsi domestik. Hal ini meningkatkan keyakinan bahwa perekonomian Jepang berada pada jalur stabil meski ada tantangan awal.
Data upah yang kuat memperkaya daya beli, dengan pertumbuhan upah riil sekitar 1,4 persen YoY pada Januari. Kombinasi pertumbuhan konsumsi dan tekanan inflasi yang terkendali memberi ruang bagi BoJ untuk melanjutkan normalisasi kebijakan. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya memantau inflasi April serta komentar pejabat BoJ yang sering menjadi indikator arah kebijakan ke depan.
Tekanan harga bensin yang terbatas dan langkah energi pemerintah memberi BoJ ruang untuk menilai laju pertumbuhan upah, hasil Shunto, dan inflasi pada April sebelum menentukan langkah berikutnya. Kondisi ini mengurangi tekanan biaya hidup jangka pendek dan memungkinkan kebijakan disesuaikan secara hati-hati. Secara umum, fokus utama adalah menjaga stabilitas sambil menunggu sinyal yang lebih jelas dari dinamika upah dan inflasi.
Proyeksi belanja pemerintah diperkirakan meningkat pada kuartal berjalan, sedangkan subsidi energi dan pertumbuhan upah yang kuat mendukung konsumsi swasta. Peran belanja publik dan bantalan harga energi membantu menahan tekanan pada harga barang dan jasa. Meski demikian, pasar perlu memantau bagaimana dinamika permintaan domestik mempengaruhi tekanan inflasi ke depan.
Meskipun headline terlihat lembut, belanja inti pada barang dan jasa tetap terjaga berkat pertumbuhan upah riil. Perkembangan ini sejalan dengan pandangan BoJ bahwa rencana normalisasi kebijakan akan berlanjut asalkan inflasi inti tetap terkendali. Perkembangan ini membuat fokus pada inflasi April, terutama harga jasa, menjadi penting karena perusahaan cenderung menyesuaikan harga di awal fiskal.
Pasar menilai kemungkinan kenaikan suku bunga pada Juni lebih tinggi dibandingkan April, dengan peluang naik jika hasil awal Shunto melebihi ekspektasi. Analis mencatat bahwa komunikasi pejabat BoJ secara hati hati sering menjadi panduan arah kebijakan di rapat mendatang. Secara umum, pasar menilai risiko kebijakan lebih condong ke jam Juni meski data ekonomi campuran.
Data inflasi April menjadi kunci untuk menilai arah kebijakan, khususnya pergerakan harga jasa. Perhatian terhadap pernyataan pejabat BoJ juga menjadi bagian krusial dari strategi pasar untuk menangkap sinyal sebelum rapat kebijakan. Sinyal yang konsisten akan membantu menyingkap kemungkinan langkah selanjutnya oleh BoJ.
Secara keseluruhan BoJ diperkirakan akan mempertahankan jalur normalisasi kebijakan meskipun timing kenaikan bunga bisa bergeser ke Juni. Fokus utama tetap pada faktor domestik seperti belanja dan upah riil, serta dinamika harga energi. Konten ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca yang membutuhkan gambaran komprehensif tentang kebijakan moneter Jepang.