Putusan Mahkamah Agung AS menyatakan bahwa tarif IEEPA untuk Brasil tidak lagi diberlakukan pada tingkat maksimum 50% dan diganti dengan tarif universal sekitar 15% secara sementara di bawah Section 122. Jika seluruh pengecualian dipertahankan, tarif efektif Brasil diperkirakan turun menjadi sekitar 10% dari level pra-putusan.
Penurunan tarif ini diperkirakan meningkatkan daya saing eksportir Brasil di pasar AS, terutama untuk produk yang sebelumnya terdampak tarif. Hal tersebut berpotensi mempercepat pemulihan ekspor Brasil ke Amerika dalam beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, dampak ini tidak menjamin pola perdagangan kembali ke keadaan sebelum hari Liberasi. Risiko kebijakan lain, seperti tarif Section 232 pada sektor-sektor tertentu, serta potensi tindakan Section 301 terhadap negara BRICS, tetap perlu diwaspadai oleh pelaku ekspor dan investor.
Di level geopolitik, koalisi BRICS yang kokoh dapat mempengaruhi arah kebijakan tarif global. Brasil bersama mitra BRICS lainnya bisa menekan kecenderungan proteksionisme, meskipun beberapa sektor tetap rentan terhadap kebijakan nasional.
Aktivisme tarif AS dan dinamika politik BRICS menjaga kerangka de-risking yang ada, meski putusan pengadilan memberi ruang lebih besar bagi ekspor Brasil. Perkembangan ini menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih terkelola bagi pelaku pasar sambil menjaga risiko kebijakan yang bisa membatasi pasar di masa depan.
Secara keseluruhan, perlambatan dalam tekanan tarif tidak menjamin pemulihan sepenuhnya ke pola perdagangan lama. Kebijakan bisa berubah seiring waktu dan negosiasi perdagangan yang berkelanjutan, sehingga pelaku pasar perlu mengikuti dinamika terkini. (Disusun oleh Cetro Trading Insight.)
Tarif efektif sangat bergantung pada apakah pengecualian tetap dipertahankan. Jika semua pengecualian dipertahankan, tarif efektif Brasil diperkirakan turun sekitar 10%; jika tidak, tarifnya bisa berada di atas 20%.
Interaksi kebijakan AS, kemitraan BRICS, dan realokasi rantai pasokan global akan membentuk arah perdagangan Brasil ke depan. Perusahaan perlu menilai ulang biaya produksi, biaya logistik, dan peluang pasar untuk menjaga daya saing.
Investor disarankan memantau langkah kebijakan AS dan fokus pada sektor yang paling rentan terhadap pembatasan tarif, karena dinamika kebijakan dapat berubah dengan cepat. (Disampaikan oleh Cetro Trading Insight.)