
Harga minyak mentah Brent melonjak pada perdagangan Kamis 18 Juni 2026 seiring peringatan Wakil Presiden AS JD Vance agar Israel tidak melanjutkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon. Ketegangan tersebut mempertegas bagaimana berita politik dapat langsung menekan laju pasar minyak. Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca setia kami.
Para pelaku pasar mencermati setiap komentar pejabat yang berpotensi mengubah keseimbangan pasokan serta permintaan minyak global. Pasar juga menimbang dampak terhadap kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran yang bisa tercoreng jika eskalasi berlanjut. Sejumlah pedagang menilai bahwa langkah militer mikro bisa langsung tercermin pada harga minyak.
Sementara itu fokus utama ialah jalur pasokan global, terutama yang melalui Selat Hormuz. Pasokan dunia sebelumnya sekitar 20 persen melewati jalur tersebut sebelum konflik meningkat. Perkiraan analis menegaskan bahwa dinamika di kawasan ini tetap menjadi driver utama volatilitas harga Brent dan WTI.
Kesepakatan pendahulu antara AS dan Iran, tercatat dalam nota kesepahaman 14 poin, menetapkan periode negosiasi 60 hari. Iran akan memungkinkan jalur bebas hambatan melalui Selat Hormuz selama masa itu. Pada targetnya, pihak bersepakat untuk memulihkan lalu lintas kapal ke kapasitas penuh dalam 30 hari setelah berlaku.
Dalam laporan bank-bank, Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk kembali normal ke tingkat sebelum perang pada akhir Juli, dengan proyeksi pemulihan produksi mentah pada Oktober. Bank investasi itu melihat normalisasi ekspor mencapai sekitar 70 persen dari tingkat sebelum perang dan peningkatan aliran melalui Selat Hormuz sekitar 13 juta barel per hari dari level saat ini.
Sementara BNP Paribas menegaskan belum melihat harga kembali ke level sebelum konflik. Mereka menilai kisaran USD75 per barel sebagai batas bawah jangka pendek karena faktor gangguan pasokan dan permintaan yang meningkat. Sebelumnya, Brent diperdagangkan di kisaran USD60-70 per barel dalam dua bulan pertama tahun ini, menunjukkan potensi rebound lebih lanjut jika permintaan memulih.
Volatilitas pasar minyak diperkirakan tetap tinggi sebagai respons terhadap perkembangan geopolitik dan dinamika pasokan. Investor menimbang sinyal pasar mengenai kapan arus melalui Selat Hormuz bisa benar-benar pulih serta bagaimana produsen di kawasan Teluk menyesuaikan produksi. Analisis ini menekankan bahwa faktor fundamental tetap menjadi pedoman utama bagi pergerakan harga jangka pendek hingga menengah.
Analisis sinyal trading berdasarkan isi saat ini tidak memberikan sinyal entry yang jelas untuk instrumen minyak. Pasar membutuhkan konfirmasi lebih lanjut terkait jalur pemulihan Hormuz dan komitmen produsen untuk meningkatkan produksi. Karena fokus utama tetap pada faktor fundamental, rekomendasi teknikal mengenai open, tp, dan sl tidak bisa disusun secara meyakinkan pada saat ini.
Untuk manajemen risiko, trader disarankan mengawasi berita terbaru seputar konflik, negosiasi, dan rencana pemulihan produksi. Penyesuaian portofolio menggunakan hedging dan pemantauan stok serta aliran melalui Hormuz menjadi kunci mengurangi volatilitas. Waspadai perubahan kebijakan negara tetangga dan dinamika permintaan global yang bisa mengubah lanskap harga minyak secara cepat.