Brent Tertekan di Kuartal II Seiring Pemulihan Pasokan Persian Gulf dan Produksi AS yang Meningkat

trading sekarang

Analis ING Warren Patterson dan Ewa Manthey mencatat bahwa Brent di ICE berakhir kuartal kedua dengan penurunan yang signifikan, turun lebih dari 38% sepanjang periode April hingga Juni. Kinerja kuartal tersebut menjadi yang terlemah sejak kuartal pertama tahun 2020 ketika permintaan terdorong turun akibat pandemi Covid. Meski kondisi geopolitik tetap rentan, dinamika pasar menunjukkan respons yang kompleks terhadap sinyal pasokan.

Faktor-faktor penahan kenaikan harga mencakup optimisme tentang pemulihan pasokan dari Teluk Persia, peningkatan kepercayaan kapal tanker untuk memasuki wilayah tersebut, serta rekor produksi dan ekspor minyak mentah AS. Ketiga elemen ini membatasi reli harga meskipun risiko geopolitik tetap ada. Selain itu, adanya ekspektasi ekspor produk olahan China juga menambah beban pada pergerakan harga.

Di sisi lain, arus tanker melalui Selat Hormuz terlihat masih terbatas meskipun ada tanda peningkatan inbound, dan pembicaraan tidak langsung di Doha pekan ini dilaporkan positif. Jika tren kapal inbound meningkat pesat, hal itu bisa menjadi hambatan bagi pandangan bahwa harga minyak akan reli dari level saat ini, sehingga dinamika pasokan tetap menjadi kunci utama.

Data EIA menunjukkan produksi minyak mentah AS mencapai rekor 13,93 juta barrel per hari pada bulan April, meningkat 1,6 persen dari bulan sebelumnya dan 3,5 persen dibandingkan April tahun sebelumnya. Ekspor total minyak mentah dan produk juga mencapai rekor 13,61 juta b/d pada bulan yang sama, tumbuh sekitar 1,74 juta b/d MoM dan 3,26 juta b/d YoY.

Pertumbuhan suplai AS memberikan bantalan bagi pasokan global dan menjadi faktor utama yang membatasi potensi kenaikan harga. Meski geopolitik tetap menjadi risiko, paduan produksi domestik yang kuat menjaga likuiditas pasar energi global. Sinyal dari pasar juga menunjukkan bahwa arus ekspor dan perdagangan minyak masih beradaptasi dengan dinamika global saat ini.

Selain itu, adanya laporan bahwa China melonggarkan pembatasan ekspor produk olahan setelah pelonggaran awal kontrol ekspor menawarkan gambaran baru bagi aliran perdagangan. Pemerintah dilaporkan menginstruksikan beberapa refiners milik negara untuk melanjutkan ekspor gasoline dan diesel, meskipun tetap dalam kuota yang ketat dan diarahkan untuk menjaga stabilitas pasar domestik.

Ekspor China dan Arus Kapal di Selat Hormuz

Pemantauan arus kapal di Selat Hormuz menunjukkan bahwa total lintasan kapal berada di kisaran sekitar 11 pada hari Selasa, turun dari puncak 24 pekan sebelumnya. Meskipun terjadi sedikit peningkatan arus inbound, para pemilik kapal tampak lebih yakin untuk mengangkut kapal ke wilayah teluk.

Para analis memperingatkan bahwa jika tren transportasi ini melambat lebih lanjut, hal itu bisa menjadi headwind bagi harga minyak, sedangkan jika arus inbound meningkat, hal itu bisa menahan dorongan kenaikan Brent. Kondisi tersebut menjelaskan bagaimana pergerakan logistik dan faktor geopolitik berinteraksi dengan dinamika harga energi di pasar global.

Secara keseluruhan, pasar menimbang kombinasi risiko geopolitik, produksi AS yang berada pada level tinggi, dan potensi ekspor China yang sedang berkembang. Skenario harga Brent ke depan tetap sangat bergantung pada bagaimana pasokan global dan arus perdagangan berkembang dalam beberapa bulan mendatang.

banner footer