BRI Sambut Perpanjangan Tenor SAL: Stabilitas Likuiditas, Dorong Penyaluran Kredit ke UMKM

BRI Sambut Perpanjangan Tenor SAL: Stabilitas Likuiditas, Dorong Penyaluran Kredit ke UMKM

trading sekarang

Di tengah kilau sektor keuangan nasional yang memicu perhatian, langkah pemerintah memperpanjang tenor SAL menandai momentum bersejarah bagi likuiditas perbankan. Bank-bank besar, termasuk BRI, merespons dengan optimisme tinggi karena kepastian dana SAL memperlancar aliran modal ke sektor riil. Cetro Trading Insight menilai kebijakan ini bisa menjadi pondasi kuat untuk menjaga arus kredit tetap lancar sambil menenangkan volatilitas pasar.

BRI mengonfirmasi SAL pemerintah sebesar Rp55 triliun yang ditempatkan di bank ini diperpanjang tenor hingga September 2026. Perpanjangan tenor memberikan kepastian operasional bagi BRI untuk menyalurkan kredit tanpa menambah tekanan likuiditas jangka pendek. Langkah ini juga memperkuat daya tahan industri perbankan menghadapi dinamika permintaan kredit dari berbagai segmen.

Hingga akhir 2025, LDR BRI tercatat 91,96 persen, meningkat dari 89,39 persen pada 2024, menunjukkan kapasitas penyaluran kredit yang lebih solid. Farida Thamrin, Direktur Treasury & International Banking BRI, menekankan bahwa perpanjangan SAL menjaga likuiditas tetap terjaga dan memperluas kapasitas kredit. Secara umum, langkah ini dipandang sebagai sinyal positif bagi stabilitas keuangan nasional serta peluang bagi UMKM dan sektor riil untuk tumbuh.

Secara operasional, likuiditas yang lebih ample memudahkan transmisi kebijakan fiskal pemerintah langsung ke masyarakat dan dunia usaha. Para pelaku pasar melihat kejelasan tenor SAL sebagai penopang kestabilan arus kas perbankan di tengah tekanan likuiditas global. Dalam konteks ini, Cetro Trading Insight menilai langkah ini sebagai fondasi penting bagi perbankan untuk bertahan dan tumbuh.

Penyaluran SAL hingga saat ini menunjukkan komposisi besar untuk segmen mikro, yang mendominasi hampir 50 persen dari total penyaluran, diikuti SME, Konsumer, dan Korporasi. Segmen ekonomi riil seperti perdagangan besar/eceran, pertanian, kehutanan, dan perikanan juga menjadi fokus penyaluran. Perpanjangan tenor memungkinkan bank memperluas penyaluran tanpa membebani likuiditas jangka pendek.

Perpanjangan tenor meningkatkan keandalan stok dana untuk mendorong kredit ke sektor riil. Farida menekankan bahwa pertumbuhan kredit tidak hanya bergantung pada ketersediaan dana (supply) tetapi juga pada permintaan dari sektor riil (demand). Dengan stabilitas likuiditas, penyaluran kredit di sektor riil diharapkan tumbuh lebih optimal sambil menjaga kualitas risiko.

Prospek pertumbuhan kredit BRI tampak membaik sejalan dengan kebijakan SAL yang lebih mantap, meski tantangan permintaan dari pelaku usaha tetap menjadi faktor kunci. Namun bank tetap fokus menjaga kualitas penyaluran dan memanfaatkan arus likuiditas yang lebih stabil. Secara pragmatis, peluang bagi segmen mikro dan UMKM relatif menjanjikan di medium term.

Farida menekankan bahwa ketersediaan dana saja tidak cukup; diperlukan permintaan dari sektor riil untuk mendorong pertumbuhan kredit secara berkelanjutan. Dengan dukungan segmen mikro yang mendominasi penyaluran, BRI berupaya memperluas inklusi keuangan sekaligus memperluas basis kredit. Keseimbangan antara supply dan demand menjadi fokus utama manajemen risiko.

Sekilas, secara keseluruhan, langkah perpanjangan SAL ini memberi fondasi bagi industri perbankan Indonesia untuk menjaga momentum penyaluran kredit sambil mengelola risiko. Di sisi investor, BBRI tetap menjadi proxy utama terhadap kebijakan fiskal dan dinamika likuiditas bank. Dari perspektif Cetro Trading Insight, perhatikan potensi revisi proyeksi kinerja bank di kuartal mendatang.

broker terbaik indonesia