
Di tengah badai geopolitik dan volatilitas ekonomi global, BRI menegaskan komitmennya untuk tumbuh sehat melalui strategi berbasis UMKM. Cetro Trading Insight menilai langkah ini sebagai sinyal kuat bahwa bank pelaku UMKM bisa bertahan lebih lama daripada skema pembiayaan konvensional. UMKM cenderung memiliki karakter granular dan tersebar, sehingga risiko portofolio kredit lebih terdiversifikasi dan tidak mudah tertekan oleh satu kejutan eksternal.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa pertumbuhan tidak akan mengabaikan kualitas. Ia menilai meski tantangan global meningkat, struktur bisnis berbasis UMKM memberikan daya tahan yang lebih tinggi dibanding korporasi karena sifatnya yang terfragmentasi. Pernyataan ini menegaskan bahwa fokus pada segmen mikro bukan hanya soal volume, tetapi juga keberlanjutan keuntungan.
BRI telah memetakan sektor yang paling rentan terhadap dinamika ekonomi dunia, terutama yang terkait komoditas ekspor, fluktuasi harga energi, dan nilai tukar mata uang. Tim manajemen risiko memperketat pengawasan pada area-area tersebut untuk mencegah penurunan kualitas kredit. Upaya ini diiringi dengan penerapan Risk Acceptance Criteria RAC untuk menjaga profil risiko tetap terkendali.
BRI menerapkan kriteria penerimaan risiko yang ketat, dikenal RAC, untuk memastikan pertumbuhan tetap selektif dan terukur. RAC membantu bank memilih segmen dan subsegmen yang memiliki profitabilitas berkelanjutan serta kualitas aset yang terjaga. Dengan pendekatan ini, portofolio kredit tidak hanya tumbuh luas, tetapi juga lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
Manajemen risiko di awal pembahasan RAC menentukan aliran proses masuk segmen mana yang akan didorong. Penentuan RAC yang terukur membuat pola ekspansi lebih dapat diprediksi dan aman. Hal ini membantu manajemen menghindari ketergantungan pada satu segmen besar yang bisa membawa risiko sistemik.
Menurut Hery, kualitas pertumbuhan lebih penting daripada mengejar volume pinjaman semata. Kualitas aset yang baik menekan potensi kerugian di masa mendatang. Jika volume naik tanpa kualitas, itu bisa menjadi bom waktu yang menguras kinerja di masa mendatang.
Pertumbuhan kredit BRI hingga kuartal I-2026 menunjukkan perbaikan kualitas aset yang signifikan. Rasio Loan at Risk LAR ditekan menjadi 9,7 persen, turun dari 11,1 persen pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini mencerminkan efektivitas mitigasi risiko dan sinergi antara kebijakan RAC dengan sistem early warning.
Penurunan LAR juga berdampak positif pada ketahanan arus kas dan profitabilitas jangka pendek. Manajemen risiko memanfaatkan indikator dini untuk mendeteksi potensi kredit bermasalah sebelum berkembang menjadi masalah besar. Ini menegaskan fokus BRI pada keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset sebagai kunci keberlanjutan kebijakan kredit.
Hingga saat ini, komitmen untuk tumbuh sehat dan berkelanjutan tetap menjadi arah kebijakan. Dengan risk-based growth, BRI diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi pinjaman dan kualitas aset secara berkelanjutan. Diversifikasi profil risiko melalui UMKM dan pemantauan risiko yang proaktif menjadi pilar utama untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi.