
Ekonom Standard Chartered, Jonathan Koh dan Edward Lee, menilai BSP akan mempertahankan sikap hawkish meski pertumbuhan Filipina melambat. Mereka menekankan bahwa proyeksi inflasi yang lebih tinggi dan CPI April yang meningkat menjaga inflasi sebagai fokus utama kebijakan.
Mereka tetap pada pandangan bahwa BSP akan menggelar kenaikan suku bunga di luar jadwal sebesar 50 basis poin sebelum pertemuan Juni, lalu melanjutkan pelonggaran bertahap mulai kuartal kedua 2027.
Rute kebijakan di masa datang sangat bergantung pada risiko inflasi. Proyeksi terbaru pasca laporan CPI April menunjukkan jalur inflasi yang lebih tinggi; BSP sebelumnya memproyeksikan inflasi 2026 di sekitar 6.3%, sementara 7.2% y/y pada April melampaui kisaran target 5.6–6.4%. Analisis tersebut menegaskan perlunya menyeimbangkan penahanan inflasi dengan dukungan pertumbuhan.
Langkah off-cycle 50bp ini dipandang sebagai upaya menahan ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas harga, meski prospek pertumbuhan tetap lemah.
Mantan pejabat pasar memperkirakan kebijakan akan diikuti pelonggaran bertahap mulai kuartal kedua 2027 untuk mengembalikan kebijakan menuju 4.5% pada akhir 2027, sejalan dengan meredanya tekanan inflasi.
Namun jalur ini bergantung pada bagaimana inflasi bergerak dan apakah pertumbuhan benar-benar melambat. Proyeksi terbaru pasca CPI April mengonfirmasi risiko lintasan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Bagi pasar keuangan Filipina, kebijakan hawkish bisa menekan imbal hasil jangka pendek dan mempengaruhi arus modal, meski volatilitas dapat meningkat seiring ekspektasi pelonggaran di masa depan.
Seiring sinyal pelonggaran yang diantisipasi pada 2027, investor perlu memantau dinamika inflasi dan pertumbuhan untuk mengelola risiko imbal hasil secara efisien dan menilai peluang alokasi aset.
Kunci bagi strategi investasi adalah memahami jalur inflasi dan kebijakan karena perubahan kebijakan akan sangat dipengaruhi oleh CPI. Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight.