Dunia industri kimia Asia Tenggara sedang menyaksikan langkah besar. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menekankan bahwa kunci daya saing saat ini adalah efisiensi rantai nilai dari hulu hingga hilir yang terintegrasi, berkelanjutan, dan responsif terhadap permintaan regional. Langkah ini bukan sekadar wacana, melainkan fondasi operasional yang bisa menurunkan biaya, mempercepat produksi, dan menjaga kualitas secara konsisten. Dalam konteks ini, TPIA menegaskan komitmen untuk membuat rantai pasokannya lebih gesit dan tahan terhadap gejolak pasar.
Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy Chandra Asri Group, Edi Riva’i, menjelaskan bahwa perusahaan tidak membangun fasilitas produksi di satu lokasi saja, melainkan tersebar di dua negara: Indonesia dan Singapura. Strategi integrasi lintas negara ini diharapkan memperkuat alur produksi, meningkatkan keandalan pasokan, dan mempercepat respons terhadap permintaan pelanggan di kawasan. Analisa kami di Cetro Trading Insight menilai pendekatan ini sejalan dengan agenda hilirisasi nasional yang tengah didorong pemerintah. Dengan pola ini, TPIA juga memperluas peluang kerja dan menekankan pengembangan kompetensi talenta lokal sebagai bagian dari kesinambungan bisnis.
Sebagai bagian dari strategi jangka menengah, TPIA meluncurkan proyek Pabrik CA-EDC untuk memperkuat pasokan bahan kimia domestik sambil menekan impor. Progres konstruksi proyek CA-EDC telah melewati lebih dari 50 persen dan ditargetkan mampu memproduksi 400 KTA kaustik soda serta 500 KTA EDC. Pembangunan ini diharapkan memperkokoh ketahanan industri nasional dan membuka peluang ekspor ke pasar Asia Tenggara. Hasilnya, perusahaan menilai dampak positif bagi ekonomi lokal serta peningkatan kemandirian bahan kimia nasional.
Proyek CA-EDC bukan sekadar investasi fisik; ia adalah fondasi untuk menjaga pasokan bahan kimia inti bagi industri pelaku dalam negeri. Dengan kapasitas produksi yang direncanakan, fasilitas ini menambah opsi substitusi impor dan mengurangi risiko gangguan pasokan. Desain dan penyatuan alur kerja yang terintegrasi memungkinkan produk kimia utama dihasilkan secara lebih konsisten, sehingga pelaku industri dapat merencanakan produksi dengan keyakinan lebih besar.
Target kapasitas CA-EDC meliputi 400 KTA kaustik soda dan 500 KTA EDC per tahun, yang akan menambah sandaran bahan kimia lokal dan peluang ekspor ke regional. Proyek ini juga menjadi pijakan untuk substitusi impor, mengurangi ketergantungan pada pasokan asing, dan mendorong kemandirian sektor kimia nasional. Dalam konteks regional, langkah ini sejalan dengan upaya memperkuat rantai pasok industri kimia Indonesia dan berpotensi meredam volatilitas harga bahan baku.
Secara ekonomi, CA-EDC diproyeksikan membawa nilai tambah sekitar Rp10 triliun per tahun melalui aktivitas produksi, substitusi impor, dan peluang ekspor. Proyek ini juga diperkirakan menyerap sekitar 3.250 tenaga kerja selama fase konstruksi hingga operasional, menghasilkan efek berganda bagi industri pendukung serta UMKM di area sekitar. Manfaat berantai ini diharapkan memperkuat ekosistem industri kimia nasional, mempercepat transfer pengetahuan, dan meningkatkan kemampuan produksi lokal.
Selain fokus pada fasilitas produksi, TPIA membangun Chandra Asri Sentral Solusi (CASS), entitas shared service yang dirancang menjadi pusat layanan back office terintegrasi bagi ekosistem perusahaan. CASS berperan dalam menyatukan aktivitas pendukung seperti keuangan, sumber daya manusia, dan operasional agar berjalan lebih efisien. Langkah ini menandai pergeseran model bisnis yang lebih terdesentralisasi namun terkoordinasi, sehingga biaya operasional bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas layanan.
Awalnya, CASS difokuskan untuk mendukung operasional Aster, sebuah strategi yang dinilai memperkuat fondasi operasional sebelum ekspansi layanan ke pihak eksternal. Pengembangan back office terintegrasi ini juga mempermudah penanganan data, meningkatkan transparansi, dan mempercepat respons terhadap permintaan mitra bisnis. Menurut wawancara dengan manajemen, upaya ini sejalan dengan tujuan menyediakan layanan solusi untuk seluruh ekosistem TPIA, termasuk UMKM lokal.
Proyeksi hingga 2026 menunjukkan CASS dapat menyerap sekitar 200 tenaga kerja seiring peningkatan kapasitas dan cakupan layanan. Dampak ini diharapkan memperluas peluang kerja bagi tenaga kerja lokal dan memberi efek berganda bagi industri pendukung di sekitar fasilitas. Dalam analisis kami di Cetro Trading Insight, transformasi CASS dipandang sebagai pendorong peningkatan efisiensi operasional yang mendukung daya saing jangka panjang TPIA.