PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengumumkan empat proyek utama yang masuk dalam Blue Book 2025–2029. Empat proyek tersebut adalah Lumut Balai Unit 3 dan Lumut Balai Unit 4, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I, serta Lahendong Unit 7–8 & Binary. Keempatnya menjadi fokus utama strategi pembangkit panas bumi perseroan.
Nilai investasi untuk keempat proyek tersebut diperkirakan melebihi USD 1,09 miliar, setara Rp 18,38 triliun. Angka ini menunjukkan komitmen PGEO untuk memperluas kapasitas listrik rendah-emisi di Indonesia. Proyek-proyek ini direncanakan mulai beroperasi secara bertahap antara 2029 dan 2032.
Edwil Suzandi, Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, menegaskan bahwa proyek-proyek ini mempertegas potensi 3 gigawatt panas bumi yang dimiliki perseroan. Investasi tersebut juga diharapkan mendukung pengurangan emisi serta meningkatkan ketahanan pasokan listrik nasional. Kebijakan ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mendorong transisi energi bersih di sektor panas bumi.
PGEO menargetkan produksi 2026 sebesar 5.255 GWh, tumbuh sekitar 3,14 persen dibanding realisasi 2025. Target ini menunjukkan sinyal positif dari operasional PGEO meskipun dihadapkan pada dinamika permintaan energi dan volatilitas harga energi.
Tahun sebelumnya, produksi PGEO tercatat 5.095 GWh, naik 5,55 persen dari 2024, menunjukkan tren peningkatan berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir. Upaya peningkatan kapasitas dan efisiensi pembangkit menjadi motor utama di balik pertumbuhan tersebut.
Saat ini PGEO mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, 725 MW dikelola langsung oleh PGEO, sedangkan sisanya melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Struktur kepemilikan ini memungkinkan penyebaran risiko serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya panas bumi nasional.
Kapasitas panas bumi PGEO berkontribusi sekitar 70 persen dari total kapasitas panas bumi nasional, menunjukkan peran sentral perusahaan dalam menjaga stabilitas pasokan listrik berbasiskan energi bersih. Pembesaran kapasitas ini diharapkan memperkuat grid nasional dan menurunkan biaya listrik jangka panjang.
Proyek ini juga berpotensi berkontribusi pada upaya pengurangan emisi. PGEO memperkirakan potensi pengurangan CO2 sekitar 10 juta ton per tahun melalui operasional yang lebih efisien dan ekspansi kapasitas rendah-emisi. Langkah ini sejalan dengan target nasional menuju ekonomi rendah karbon.
Dengan investasi besar dan peningkatan kapasitas, PGEO berpotensi meningkatkan ketahanan energi nasional serta memperluas akses listrik bersih bagi rumah tangga dan industri di berbagai wilayah Indonesia. Inisiatif ini juga sejalan dengan arahan Kementerian BUMN dan Kebijakan Energi Nasional untuk mendorong diversifikasi sumber energi terbarukan.