CPO Menguat 1,8% Didukung Minyak Nabati, Ekspor Kelapa Sawit Tumbuh Pesat
Harga minyak sawit mentah melonjak lebih dari 1% pada perdagangan Kamis, menandai kelanjutan rebound di tengah volatilitas pasar komoditas global. Pada pukul 14.37 WIB, kontrak CPO untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik menjadi 4.577 ringgit per ton. Menurut analisis dari Cetro Trading Insight, lonjakan ini mencerminkan permintaan fisik yang tetap kuat meski dinamika pasar sedang berubah-ubah.
Kenaikan didorong oleh dinamika pasar minyak nabati dan energi. Data futures menunjukkan CPO bergerak lebih tinggi mengikuti reli minyak kedelai Chicago serta pemulihan harga energi secara umum, menambah dukungan pada harga komoditas nabati.
Dukungan lain datang dari prospek ekspor minyak sawit yang kuat. Lembaga survei kargo memperkirakan ekspor periode 1-25 Maret naik sekitar 38,4% hingga 50,6% secara bulanan, sementara kabar mengenai potensi kenaikan pajak ekspor minyak sawit Indonesia pada April turut menjadi katalis positif. Selisih harga minyak sawit terhadap gas oil yang melebar juga meningkatkan daya tariknya sebagai bahan baku biodiesel.
Ekspor minyak sawit masih menjadi pendorong utama harga, dengan data evaluasi ekspor periode 1-25 Maret menunjukkan lonjakan bulanan sekitar 38,4% hingga 50,6%. Dukungan permintaan fisik dari pasar Asia dan Eropa memperkuat narasi bullish harga CPO di tengah wacana kebijakan fiskal yang mendongkrak arus keluar komoditas ini.
Para pelaku pasar menilai langkah kebijakan pajak ekspor minyak sawit Indonesia yang mungkin naik pada April sebagai sinyal positif bagi harga jangka pendek hingga menengah. Kebijakan tersebut diperkirakan akan menjaga keseimbangan pasokan di pasar global sambil memberikan insentif bagi produsen untuk meningkatkan ekspor.
Selain itu, selisih harga minyak sawit terhadap gas oil yang melebar meningkatkan daya tarik CPO sebagai kandidat utama biodiesel, sehingga permintaan terhadap minyak sawit diperkirakan tetap solid meski volume ekspor meningkat.
Secara teknikal, minyak sawit cenderung mengikuti tren minyak nabati pesaing, karena kedua komoditas bersaing untuk bagian pasar global. Pergerakan harga sawit dipengaruhi faktor produksi dan kebijakan di negara produsen utama, membuat sentimen pasar tetap responsif terhadap berita fiskal.
Di sisi risiko, ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah, bisa menambah volatilitas harga minyak mentah global serta merembet ke harga minyak nabati, sehingga investor disarankan memperhatikan dinamika rantai pasokan energi dunia.
Di sisi lain, pelemahan mata uang ringgit Malaysia sekitar 0,73% terhadap dolar AS menjadikan minyak sawit lebih murah bagi pembeli berkarakter valas. Faktor kurs ini mendukung permintaan luar negeri meski ada tekangan fiskal, sehingga konteks investasi di CPO tetap menarik bagi pelaku pasar berisiko.